Ufologi sebagai sebuah pseudoscience


Dalam pembahasan soal UFO ada yang disebut sebagai debunker, yang sering dikali membuat jengkel para ufolog. Tapi perlu diketahui, di kalangan ilmiah, debunker ini harus ada karena tanpa sifat koreksi dan kritis ini, ilmu tidak akan berkembang. Kalau mau, UFO bisa masuk kategori paranormal science. Apakah paranormal science itu pseudoscience? Untuk itu kita perlu menyamakan pengertian dahulu, yang menurut saya situs wikipedia inihttp://en.wikipedia.org/wiki/Pseudoscience cukup memadai. Pseudoscience adalah sebuah klaim, keyakinan, atau praktek yang tampil sebagai saintifik, tapi tidak menganut metodologi ilmiah yang baku, kurang didukung oleh fakta-fakta/bukti atau hal yang masuk akal, tidak bisa diuji reliabilitasnya, atau bisa juga karena tidak punya status ilmiah.

Mengapa tidak suka disebut pseudoscience?

Tentu adalah baik jika kita menyepakati dahulu apa yang dimaksud dengan pseudoscience. Jika ada orang yang menganggap pseudoscience itu buruk, maka mestinya dia termasuk golongan yang tidak suka dengan pseudoscience. Ketika pseudoscience dimaknai secara negatif, dalam pemikiran saya, maka orang yang memaknai negatif itu tentu tidak suka dengan pseudoscience.

Soal penelitian, apapun bisa diteliti. Bahkan yang tidak terlihatpun bisa diteliti. Namun apakah itu akan termasuk dalam body of knowledge, itu akan menjadi permasalahan tersendiri. Misalnya, orang bisa saja meneliti soal hantu, jin atau bahkan mungkin soal roh. Demikian juga orang bisa meneliti soal UFO. Namun ketika dasar pemikiran yang digunakan itu tidak bersifat ilmiah, maka pertanyaannya adalah, sejauh mana kebenarannya bisa dianggap sebagai ilmiah? Sebagai contoh, membahas soal keberadaan UFO atau makhluk cerdas dari planet lain berdasarkan mitos kuno yang sudah ribuan tahun lalu yang belum tentu itu merupakan fakta kejadian yang sesungguhnya. Orang bisa mengatakan bahwa kisah Barata Yudha itu adalah pertempuran antara bangsa alien, dan mungkin memberikan bukti-bukti adanya sisa-sisa radioaktif di India, tapi apakah hasil temuan itu bisa diterima di kalangan ilmuwan? Belum tentu.

Salah satu ciri ilmu adalah dia dapat dan mau dikoreksi dan dikritisi. Ini berbeda dengan agama yang dianggap sudah benar sehingga tidak perlu ada koreksi lagi. Ketika fenomena UFO masuk kajian science, maka harus siap jika dibuktikan salah atau disangkal. “UFO is possible exist until proven otherwise”, maka nantinya semua ilmu yang ada akan membuktikan bahwa itu tidak benar. Sebagai contoh, bisa saja kasus alien abduction hanya dianggap sebagai gangguan tidur atau bahkan gejala gangguan kejiwaan. Metode penyelidikan UFO menurut saya berbeda dengan metode ilmiah. Mengapa? Karena UFO masih tergolong pada fenomena paranormal atau kalau mau bisa disebut sebagai paranormal science.

Syarat keilmuan

Karl Popper menyatakan bahwa ketidakcukupan ini yang membedakan antara science dari pseudoscience, atau dari metafisika, karena tidak mengikuti metode empiris, yang mana sangat esensial merupakan dasar proses berpikir induksi, berdasarkan observasi atau eksperimen. Popper mengusulkan falsifiability sebagai kriteria yang penting dalam membedakan science dari pseudoscience. Popper menyatakan, “Jika pengamatan menunjukkan bahwa pengaruh diperkirakan pasti tidak ada, maka teori itu dengan mudah dapat disangkal.” Popper menyimpulkan kriteria untuk status ilmiah dari sebuah teori tergantung pada falsifiability (bersedia dibuktikan salah), refutability (siap menerima disangkal) , atau testability (siap untuk diuji).

Memang dikatakan bahwa istilah pseudoscience memiliki konotasi negatif, karena dipakai untuk menunjukkan bahwa subjek yang mendapat label semacam itu digambarkan sebagai suatu yang tidak akurat atau tidak bisa dipercaya sebagai ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, para pembela serta yang mempraktekkan pseudosains biasanya menolak klasifikasi ini.

Meskipun UFO ini merupakan bidang yang menarik untuk diselidiki oleh sebagian orang, namun sulit menjadi sebuah ilmu yang berdiri sendiri. Pohon besar keilmuannya barangkali adalah ilmu paranormal (paranormal science). Tapi, apakah paranormal science adalah sebuah science? Menurut saya, paranormal science adalah kombinasi dari science dan metafisika. Nah, di sini ada istilah lagi, yaitu metafisika, yang juga perlu jelas apa definisinya. Ada orang yang menganggap metafisika itu adalah spiritual, ada yang mengira bahwa itu adalah “di luar fisika”, atau ada yang menyamakan dengan seorang paranormal, dan ada juga yang bilang bahwa metafisika adalah salah satu cabang ilmu filsafat. Metafisika mengkaji hakikat segala yang ada. Dalam bidang ini, hakikat yang ada dan keberadaan (eksistensi) secara umum dikaji secara khusus dalam Ontologi.

Sebelum berkembangnya ilmu modern, orang mencari penjelasan atas pertanyaan dengan cara metafisika (sebagai filsafat alam). Psikologi sebagai ilmu juga baru diakui sejak tahun 1897 ketika Wilhelm Wundt mendirikan sebuah laboratorium pertama psikologi. Obyek yang diteliti oleh psikologi sebenarnya bukan psyche itu sendiri, karena psyche (jiwa) tidak bisa dilihat, namun hal itu bisa diteliti dalam manifestasinya sebagai perilaku. Oleh karena itu, psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia.

UFO sebagai sebuah misteri

Kembali ke ufologi, jika memang suatu saat ada ilmu tentang UFO, apa yang akan dipelajari dari UFO? Saat ini kita masih berusaha menemukan UFO itu sendiri. Kita masih dalam tahap upaya untuk “discovery”. Keberadaan UFO meski diyakini ada, namun belum menyatakan dirinya secara utuh. Dengan kata lain, keberadaannya masih misteri.

Jadi, inti dari permasalahan UFO bagi kalangan science yang masih sangat mendasar adalah “Apakah UFO itu ada”. Para ufolog pasti mempunyai hipotesa “UFO itu ada”, bahkan punya banyak teori tentang hal itu. Nah, penelitian apa yang bisa dilakukan oleh para ufolog untuk bisa menunjukkan bahwa hipotesanya diterima? Apakah cukup dengan menyodorkan sejumlah bukti berupa foto, video, tulisan-tulisan mitos, kitab suci atau bahkan peninggalan arkeologi?

Ufologi menurut saya bukan science dan sulit menjadi sebuah disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Sebagaimana UFO dipahami sebagai pesawat alien, sementara keberadaannya sekaligus juga masih misterius. Ufologi adalah suatu istilah yang dipergunakan untuk menjelaskan suatu upaya untuk menemukan (discover) sesuatu yang misteri dianggap tidak dapat diidentifikasi.

Upaya mencari kebenaran

Lebih jauh lagi, jika memang ingin serius bicara soal keilmuan, terutama apakah ufologi bisa menjadi sebuah ilmu, maka harus secara terbuka kita siap untuk menyajikan apa ontologi, epistemologi dan aksiologinya. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan dan menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. Epistemologi mengkaji tentang bagaimana ilmu atau pengetahuan itu diperoleh, seperti batas, sumber, serta kebenaran suatu pengetahuan. Dengan kata lain, epistemologi adalah “the theory of knowledge”. Lalu, aksiologi berusaha menjawab untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?

Tentu tidak mudah memperjuangkan ufologi menjadi sebuah science, terutama kalau karakteristik peneliti UFO masih menggunakan “metode pseudoscience” menurut kacamata science. Misalnya, ada yang mengotot menggunakan referensi kitab suci karena menurutnya itu mutlak benar. Metode pseudoscience seringkali tidak fair, sebab sering hanya mengambil/mengadopsi informasi yang mendukung pernyataannya, dan mengabaikan pandangan yang bertentangan dengan dirinya.

Mengenai UFO itu sendiri bagi saya mau tidak mau adalah merupakan sebuah minat (interest) atau hobby. Bahwa ada astronom yang berminat soal UFO, ada jenderal yang suka membahas UFO, ada ahli nuklir yang suka soal UFO seperti Stanton Friedman. Tapi pertanyaannya, apakah di kalangan keilmuaannya, dia diakui sebagai peneliti UFO?

UFO adalah fenomena yang menarik bagi saya. Kebenarannya tidak perlu saya sangsikan lagi. Sama seperti saya melihat kursi yang saya duduki, saya tidak perlu membuat ilmu tentang kursi (kursilogi). Memang, penambahan kata logi sering diartikan sebagai ilmu, misalnya weaponology adalah ilmu tentang senjata. Weaponology barangkali masuk di dalam science of warfare.

Jembatan antara science dan pseudoscience adalah popular science. Yang pasti, buku serius tentang UFO tidak masuk golongan SF (Science Fiction) tapi NF (Non Fiction). Tapi, yang non fiction itu belum tentu science lho. Tidak harus fakta selalu menjadi sains. Pengetahuan untuk bisa menjadi sains harus mengikuti hukum aturan metodologi ilmiah. Misalnya, kalau saya buat buku otobiografi, apakah itu masuk science? Tentu tidak, padahal isinya bukan non fiksi. Di setiap ilmu ada pseudo-nya, misalnya pseudoarcheology, pseudobiology, pseudophysic, dan lain-lain.

Tentu alangkah baiknya menyelidiki UFO dan mencari kebenaran secara ilmiah, dengan scientific method. Hal ini karena dengan metode ini terbuka kemungkinan untuk dikoreksi dan dikritisi. Kalau tidak mau dikoreksi atau dikritisi, jangan jadi ilmu. Ilmu yang menurut saya bisa menjadi tempat ufologi bersandar saat ini adalah antropologi.

Science memang punya metode. Prinsipnya sederhana, hanya satu, yaitu hasil penelitian bisa diteliti atau diuji oleh orang lain (adequacy = keajegan). Saya lihat arah perkembangan diskusi soal pseudoscience menunjukkan kekurangpahaman akan makna pseudoscience itu sendiri.

Pseudo adalah berarti semu. Jadi pseudoscience adalah sebuah “ilmu” yang semu karena ingin jadi ilmu. Klenik tidak akan menjadi pseudoscience karena dia tidak pernah berusaha menjadi science. Namun, yang menarik, ada orang yang berusaha mengilmiahkan konsep yang diyakininya, misalnya astrologi. Apa dasar ilmiah astrologi? Orang mencari-cari, misalnya bahwa kalau posisi rasi bintang sedang ada di Venus, maka orang dalam zodiac itu penuh dengan asmara yang membara. Anda percaya silahkan, tidak percaya juga tak masalah. Tapi dia kemudian memakai predikat yang biasa digunakan oleh science, yaitu “LOGOS” sehingga digunakan istilah astrologi. Maka jadilah astrologi sebagai pseudoscience. Kalau cuma pakai nujum perbintangan, bukan pseudoscience, namanya saja nujum. Nah, ufo menjadi pseudoscience karena juga pakai istilah ufologi. Ilmu yang mempelajari soal UFO. Apa yang dipelajari? Sebagai sebuah ilmu, ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Apa itu?

Ontologi adalah hakikat yang Ada (being, sein) yang merupakan asumsi dasar bagi apa yang disebut sebagai kenyataan dan kebenaran. Epistemologi adalah sarana, sumber, tatacara untuk menggunakannya dengan langkah-langkah progresinya menuju pengetahuan (ilmiah). Aksiologi adalah nilai-nilai (value) sebagai tolok ukur kebenaran (ilmiah), etik, dan moral sebagai dasar normative dalam penelitian dan penggalian, serta penerapan ilmu.

Lalu, apa ontologi dari ufologi? Yaitu adalah UFO itu sendiri, yang oleh kalangan ufolog asumsi dasarnya adalah UFO itu ada. Nah, di sini letak permasalahannya. Keberadaan UFO itu sendiri meski telah banyak bukti (evidence), tapi tidak cukup kuat untuk sebagai bukti (proof) bahwa UFO itu ada. Kalau orang masih bisa meragukan bahwa UFO itu ada, maka secara ontologi, ufologi itu lemah. Belum lagi soal epistemologinya. Bagaimana kita bisa menghadirkan obyek UFO atau aliennya untuk bisa diteliti? Apa saja teknik penelitiannya? Seringkali yang diteliti oleh ufolog bukan obyek ufonya langsung tetapi hasul foto, video, kesaksian, literatur dan sejenisnya.

Pseudoscience, wilayah abu-abu

Seorang peneliti UFO, walau tahu bahwa dianggap pseudoscience, tentu dia berusaha untuk melakukan penelitian dengan obyektif dan jujur. Namun problemnya, sains menuntut bahwa hasil penelitian itu bisa diuji oleh orang lain. Pada kenyataannya, ini sulit untuk dipenuhi.

Lalu, apakah UFO tidak bisa diselediki secara ilmiah? Kalau itu pertanyaannya, maka jawabannya bisa. Ilmu apa yang bisa menyelidikinya? Tentu ini tergantung dari disiplin ilmu yang dimiliki oleh penelitinya. Bisa dari sudut pandang antropologi, psikologi, psikiatri, politik, fisika, eksobiologi, filsafat bahkan mungkin ilmu agama.

Upaya membuat UFO sebagai ilmu yang berdiri sendiri yang kemudian disebut sebagai Ufologi, justru akan membuat hal ini sebagai sebuah pseudoscience. Banyak contoh pseudoscience (ilmu semu), misalnya graphology (ilmu membaca arti tulisan tangan), astrologi (ilmu sifat dan nasib manusia yang dipengaruh oleh posisi benda langit), hongshui (ilmu keserasian tata letak ruang). Nah, meskipun hongsui dianggap sebagai pesudoscience, tapi ada juga ahli arsitektur yang mengkaji hal ini. Demikian juga graphology ada yang memanfaatkan dalam proses seleksi pegawai. Salah satu ciri pseudoscientist adalah gelar akademik yang dimiliki dengan minat pseudoscientist yang dimiliki biasanya sangat berbeda. Ini membuat pseudoscience menjadi wilayah abu-abu.

Kita yang meminati masalah UFO, menurut saya sebaiknya memiliki semangat untuk menyelidiki, berusaha menemukan, menyingkap misteri, sebagaimana mirip seorang penyelidik (detektif) atau investigator. Jadi seorang ufolog adalah penyelidik UFO. Kalaupun kita mau membuat kajian UFO ini sebagai sesuatu yang ilmiah, maka sebaiknya langkah awal adalah membuat diri kita menjadi seorang scholar (orang yang berprofesi di bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan, seperti dosen, profesor atau doktor). Tanpa itu, tentu apa yang kita lakukan, kajian apapun, tidak akan dianggap sebagai sebuah karya ilmiah. Saya pribadi tidak masalah dengan anggapan bahwa ufologi adalah psuedoscience, karena memang demikianlah adanya dan di situlah keasyikannya.Sebagai seorang ufolog, saya bangga meski dianggap sebagai pseudoscientist. (Nur Agustinus)

 

Sumber : Copy Paste dari Pusat Studi UFO di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s