UFO, tahayul atau masuk akal adanya?


Tulisan ini bermula dari posting di milis BETA-UFO tentang kejadian di Mamuju, Sulawesi Barat, bahwa ada penampakan kuntilanak yang melayang-layang dan hinggap di atas sebuah rumah. Ada yang mempertanyakan, mengapa topik ini dibahas di milis UFO, bukankah ini hal yang bersifat tahayul? Namun ada juga yang mengemukakan bahwa penampakan ini bisa dikategorikan kasus Unidentified Flying Humanoid. Namun diskusi berkembang dengan mempertanyakan, apakah UFO juga merupakan hal yang bersifat tahayul? Saya melontarkan sebuah pertanyaan, orang yang percaya UFO itu ada, barangkali tidak berbeda dengan yang percaya kuntilanak itu ada… hanya kita mungkin kesannya lebih “modern”. Apa dan bagaimana tahayul itu dan benarkah percaya adanya UFO itu merupakan tahayul?

Tahayul adalah sesuatu kepercayaan terhadap hal-hal yang tidak rasional; yaitu tanpa adanya penjelasan atau bukti yang masuk akal. Menurut Indra, salah seorang anggota BETA-UFO mengatakan bahwa UFO believers, in certain degree, bisa dikatakan ‘tahayul’ believer. Menurut Wikipedia, superstition is a credulous belief or notion, not based on reason or knowledge. The word is often used pejoratively to refer to folk beliefs deemed irrational, which is appropriate since irrational means “not based on reason”.

Manusia dalam perjalanan hidupnya berusaha mencari pengertian. Man search for meaning, termasuk berusaha mencari pemahaman tentang dirinya sendiri. Alam dan semesta ini juga menarik perhatian manusia, seakan ada keteraturan namun sekaligus kadang ada kekacauan. Hidup bisa berjalan biasa-biasa saja, namun tiba-tiba ada katastrofe (bencana). Hal semacam ini dibahas dalam filsafat metafisika dan filsafat alam. Pengertian metafisika di dalam filsafat barat tidak sama dengan metafisika yang muncul di tabloid (yang artinya mistik).

Manusia sebelum filsafat, menjelaskan fenomena alam dengan mitos. Ada dewa yang mengatur angin. Hujan juga ditentukan oleh perintah dewa atau malaikat. Bahkan mungkin sampai saat ini, orang meninggal berarti ada malaikat yang mencabut nyawanya. Filsafat mencoba menjawab pertanyaan itu dengan reason, dengan akal manusia. Seperti yang ditulis di sebuah buku filsafat, takhayul membakar dunia, filsafat memadamkannya.

Sesuatu disebut tidak masuk akal jika secara pemikiran kita hal itu dianggap tidak logis. Manusia punya cara untuk mencari jawaban. Ini disebut dengan istilah epistemologi. Jika cara menemukan jawaban ini tidak logis, tidak sesuai dengan kaidah filsafat atau ilmu pengetahuan, maka hal itu akan dianggap tidak masuk akal. Misalnya, jenglot dikatakan berasal dari manusia yang dulunya ngelmu (mencari ilmu) dan kemudian tubuhnya mengkerut hingga sedemikian kecil dan tetap suka minum darah. Tak ada penjelasan akal (reason) maupun sains bagaimana hal itu bisa terjadi. Maka ini disebut tahayul. Termasuk jika Anda percaya bahwa kutukan ibunya Malin Kundang bisa sangat ampuh yang membuat anaknya jadi batu, itu juga tahayul, sebab secara akal dan sains, jelas tidak mungkin.

Tentu saja, ada upaya untuk menjelaskan secara akal (reason) dan sains mengenai cerita-cerita yang usianya sudah ribuan tahun. Barangkali masalah pemaknaannya yang berbeda, sehingga lahirlah kemudian ilmu tafsir atau hermeneutika. Misalnya, bagaimana bencana air bah terjadi, bagaimana laut merah bisa terbelah, bagaimana proses bencana yang menimpa Sodom dan Gomora, termasuk kisah pasukan gajah yang dikalahkan oleh Ababil. Tentu ada upaya yang membiarkan bahwa cerita itu tetap sebagai cerita dengan sejumlah pesan moral di dalamnya, namun ada juga yang berusaha mencari penjelasan yang masuk akal, bagaimana hal itu bisa terjadi. Jika akal budi kita gagal menjelaskannya termasuk apalagi dengan sains juga tidak berhasil, di situlah kita akan mengatakan bahwa tidak masuk akal. Menganggap tidak masuk akal bisa juga bagian dari sifat manusia yang skeptik. Orang akan cenderung skeptik terhadap sesuatu yang di luar keyakinannya.

Contoh lain adalah mengenai miracle, mukjijat, apakah itu tahayul? Bagaimana miracle bisa merupakan sesuatu yang masuk akal? Tentu tidak mudah. Itu sebabnya, bagi yang mempercayai adanya miracle, tentu lompatannya bukan ke tahayul, tapi ke iman. Tahayul dan iman adalah hal yang berbeda (menurut kajian filsafat). Tapi ada batasannya, iman yang baik adalah pakai rasio, seperti yang pernah ditulis oleh Paus Yohanes Paulus II, yaitu Fides et Ratio. Iman yang buta itu bisa masuk pada fideisme… percaya buta, dan barangkali percaya pada hal yang tahayul juga termasuk fideisme.

Reason adalah akal. Rasional artinya dapat dipikirkan dan masuk akal. Untuk itu memang perlu penjelasan logika. Melalui filsafat, orang bisa saja misalnya menjelaskan tentang eksistensi tuhan. Tentu dalam artian bahwa melalui reasonnya, orang (tidak semua) bisa mengenal adanya supreme being. Itupun, argumen maupun kesimpulan dari hasil penalaran tetap terbuka untuk didiskusikan dan dikritisi. Demikian halnya dengan UFO atau makhluk dari luar angkasa. Hal ini menurut saya juga berangkat dari sebuah premis yang diolah melalui akal (reason). Misalnya, apakah manusia hanya sendirian saja di alam semesta ini? Apakah hanya planet bumi yang berisi makhluk hidup?

Dengan ditemukannya planet-planet lain serta adanya kehidupan di planet lain (bahwa bumi bukan planet yang sangat istimewa dan eksklusif), melalui reason kita kemudian bisa menyimpulkan bahwa sangat mungkin adanya kehidupan di planet lain, bahkan bisa jadi kehidupan yang cerdas. Demikian juga perjalanan antar bintang yang makin hari makin mungkin, membuat eksistensi UFO ini secara rasional masuk akal. Suatu saat manusia menjelajah ke planet lain, ke bintang lain, bahkan mungkin sekali menjalin interaksi dengan penghuni cerdas di planet tersebut. Melihat kemungkinan ini, bukankah masuk akal jika ada pengunjung dari planet lain yang ke bumi? Nah, jika demikian, apakah UFO bisa dianggap tahayul?

Apakah akal anda bisa menjelaskan bagaimana bintang-bintang di langit bisa mempengaruhi kehidupan dan sifat manusia? Atau kartu bisa meramal masa depan Anda? Atau ada gurita yang bisa meramal piala dunia bisa dikatakan masuk akal? Memang Indra juga mengatakan bahwa tingkat ke-absurd-an (irrationality) suatu tahayul tidak menentukan kelestarian tahayul tersebut dalam sistem sosial (masyarakat). Justru yang berlaku adalah, se-absurd apapun tahayul itu; kalau dianut oleh mayoritas masyarakat, maka akan lebih ‘masuk akal’ dibandingkan tahayul yang less-absurd; tapi hanya dianut oleh minoritas.

Memang, pengetahuan atau knowledge, entah itu dianggap rational atau irrational, tergantung dari power. Bahkan menurut Foucault, yang punya power seringkali juga menetukan knowledge macam apa yang boleh “dianut” masyarakatnya. Yang menarik, mengapa “power” justru berusaha mengcover-up knowledge tentang UFO? Mengomentari pertanyaan saya ini, Indra berpendapat, “Maybe, knowledge tentang UFO, bisa membuat ‘yang punya power’ kehilangan power-nya.” Ya, bisa jadi demikian… bahkan siapa tahu dengan sengaja kebenaran akan UFO ini diupayakan terbenam dalam ketahayulan?

Bacaan lebih lanjut:
http://en.wikipedia.org/wiki/Fideism
http://en.wikipedia.org/wiki/Credulity

Surabaya, 5 Oktober 2010
Nur Agustinus

Sumber : Copy Paste dari Pusat Studi UFO di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s