Arsitek : Berkarya atau Bekerja?


Beberapa waktu yang lalu, saya melihat sebuah cuplikan media, yang isinya terdapat tulisan dari seorang arsitek ternama tanah air yaitu Raul Renanda. Salah satu yang cukup menarik dari tulisan tersebut adalah terdapat kata-kata “arsitek, berkarya atau bekerja”.

Bagi beberapa orang, yang jarang bersinggungan dengan dunia arsitektur atau dengan seorang arsitek, perbedaan antara arsitek, kontraktor, ahli struktur bangunan, dan drafter mungkin sama sekali tidak terlihat. Hal ini karena didalam praktek sehari-hari, pembedaan tugas dari masing-masing peran terkadang rancu. Mengapa? karena dalam prakteknya sering terjadi overlap pekerjaan. Arsitek yang juga mengerjakan borongan, atau kontraktor yang juga menerima order gambar, atau drafter yang karena sudah sering membantu arsitek, akhirnya menerima job yang biasanya dikerjakan oleh arsitek. Begitu pula sebaliknya.

Hal ini sering dialami oleh teman-teman saya yang bercerita kepada saya. Bahkan pernah suatu kali teman saya yang lulusan arsitek UGM ‘dilecehkan’ oleh mertuanya karena tidak bisa membuat pagar kawat ayam di rumah mertuanya tersebut. “Masa udah S1, lulusan UGM pula, masang kawat ayam aja ga bisa?”. Mungkin dalam bayangan si mertua kurikulum arsitektur terdapat pelajaran rakit kawat…hehe

Terkait dengan rancunya pembagian kerja, sebenarnya lingkup batasan untuk arsitek memang sedikit kabur. Banyak teman kuliah saya yang akhirnya bekerja sebagai kontraktor, drafter, 3D visualiser, juga animasi. Seseorang biasanya disebut arsitek ketika bisa ‘menggambar’ bangunan. Banyak kita lihat dalam sebuah iklan lowongan konsultan misalnya; yang dipersyaratkan adalah kemampuan dalam menggambar, bukan kemampuan untuk mendesain atau merancang bangunan. Yang terjadi adalah arsitek menjadi drafter.

Kebutuhan hidup memaksa sebagian lulusan arsitek untuk bekerja cepat. Bekerja cepat, maka fulus pun cepat mengalir dan dapur mengepul. Kondisi ini yang terkadang menumpulkan kemampuan untuk menuangkan ide dalam perancangan. Yang penting cepat, owner suka, terima bayaran, selesai, cari orderan lain…

Dalam pandangan saya, arsitektur merupakan penghubung antara pelukis dengan ahli struktur. Pelukis lebih dominan pada estetika, tanpa adanya batasan berupa ukuran. Sedangkan ahli struktur dominan pada perhitungan kekuatan daripada estetika. Seorang arsitek yang baik, harus mendalami kedua ilmu tersebut, meskipun tidak se-ahli dua profesi sebelumnya.

Sekedar berbagi pengalaman, ketika saya membuka lowongan untuk studio saya, banyak saya dapati bahwa lulusan arsitek hanya sekedar menonjolkan kesan visual. Konsep, karakter, hingga pengetahuan tentang struktur sering diabaikan. Memang, untuk struktur terdapat ahli yang berkompeten, namun bukan berarti seorang arsitek lantas lepas tangan dan berkata “ah, itu kan urusan sipil” atau “ah, nanti serahkan saja pada tukang”.

Kembali pada dapur, banyak sekali persaingan antar arsitek di negeri ini. Bahkan tidak jarang iklan-iklan di koran yang menawarkan jasa arsitek dengan harga atau fee yang tidak masuk akal. Pernah saya jumpai dalam sebuah surat kabar, yang menawarkan jasa arsitek dengan harga 1rb/m2. Saya membayangkan ketika ada owner yang menginginkan desain gazebo ukuran 2×2 m2, berarti fee yang diterima adalah sebesar 4 ribu rupiah. ????

Memang bukan sesuatu yang salah ketika kebutuhan ekonomi menjadi sesuatu yang mendesak ke-profesionalisme-an, bahkan dalam profesi arsitek sekalipun. Tidak ada hukum yang mengatur tenntang itu. Hanya saja, alangkah lebih baiknya ketika kita lebih memperdalam lagi apa yang menjadi tugas seorang arsitek. Arsitek wajib memberikan masukan-masukan seputar desain, tidak hanya tentang visualisasi gambar. Sirkulasi, pencahayaan, penghawaan, pembagian ruang, ‘sense’, hingga mungkin fengshui dari bangunan yang dirancang. Konsumen yang awam membutuhkan ilmu, tidak hanya desain yang “nyeni” saja, namun kembali kepada ilmu tentang bangunan yang optimal, apapun bangunan tersebut. Dengan demikian dapat tercipta lingkungan binaan dalam segala skala, dari mikro sebuah ruangan, hingga makro dalam suatu kawasan.

Salam desain…..

Sumber : pemikiran pribadi plus sharing dengan rekan-rekan se-profesi

 

4 pemikiran pada “Arsitek : Berkarya atau Bekerja?

  1. saya suka bagian paragraf ke 6
    ” arsitektur merupakan penghubung antara pelukis dengan ahli struktur. Pelukis lebih dominan pada estetika, tanpa adanya batasan berupa ukuran. Sedangkan ahli struktur dominan pada perhitungan kekuatan daripada estetika. Seorang arsitek yang baik, harus mendalami kedua ilmu tersebut, meskipun tidak se-ahli dua profesi sebelumnya.”

    thanks postingannya
    salam arsitek…… semangat pagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s