Akustika Luar Ruangan


Persoalan kebisingan di negara berkembang dengan iklim tropis-lembab khususnya dalam hal ini di Indonesia seringkali lebih rumit dibandingkan di negara beriklim tropis-kering. Masalah kebisingan belum begitu diperhatikan oleh masyarakat umum. Masyarakat cenderung mengabaikan masalah kebisingan karena alasan-alasan klasik seperti mahalnya biaya dan belum adanya informasi yang jelas mengenai akibat buruk kebisingan bagi kesehatan masyarakat pada umumnya.

Di daerah iklim tropis-lembab, kebisingan terkadang berlawanan dengan aliran udara dan cahaya. Banyaknya bukaan akan berakibat baik untuk aliran udara, namun suara-suara bising akan masuk. Dibawah ini beberapa alternatif untuk mengendalikan kebisingan diluar bangunan.

I. Reduksi Kebisingan secara Alamiah

Faktor-faktor alami yang bisa mereduksi kebisingan diantaranya :

a. Jarak

Seperti yang kita tau, gelombang bunyi memerlukan waktu untuk merambat. Dalam kasus di permukaan bumi, gelombang bunyi merambat melalui udara. Dalam perjalanannya, gelombang bunyi akan mengalami penurunan intensitas karena gesekan dengan udara. Menurut penelitian, pada sumber bunyi tunggal, setiap kali kita menjauhi sumber 2x lipat jauhnya, intensitas bunyi berkurang sebesar 6dB. Pada sumber bunyi majemuk, akan berkurang 3dB.

b. Serapan Udara

Udara mempunyai massa. Udara mengisi ruang kosong diatas bumi dan digunakan oleh suara untuk merambat. Namun adanya udara juga sebagai penghambat gelombang suara. Gelombang suara akan mengalami gesekan dengan udara. Udara yang kering akan lebih menyerap udara daripada udara lembab, karena adanya uap air akan memperkecil gesekan antara gelombang bunyi dengan massa udara. Juga udara yang bersuhu rendah akan lebih menyerap suara daripada udara bersuhu tinggi, karena suhu rendah membuat udara menjadi lebih rapat sehingga gesekan terhadap gelombang bunyi akan lebih besar.

c. Angin

Arah angin akan mempengaruhi besarnya frekuensi bunyi yang diterima oleh pendengar. Arah angin yang menuju pendengar akan mengakibatkan suara terdengar lebih keras, begitu juga sebaliknya.

d. Permukaan Tanah

Seperti benda apapun di dunia, permukaan lembut akan menyerap suara. Permukaan bumi yang berupa tanah dan rumput, merupakan barrier yang sangat alami. Suara yang datang akan terserap langsung. Sebaliknya, permukaan yang tertutup aspal jalan atau konblok akan langsung memantulkan bunyi.

II. Menata Lay Out Bangunan

Lahan yang luas tidak akan membingungkan dalam mengatasi keisingan, karena masih adanya jarak yang bisa dimaksimalkan untuk menjauhi sumber bunyi. Berbeda halnya dengan lahn di perkotaan yang memaksa kita untuk membuat bangunan dengan bentuk layout yang sesuai untuk mengatasi kebisingan. Satu-satunya cara adalah menata layout bangunan, dimana peletakan ruang-ruang yang membutuhkan ketenangan jauh dari jalan raya. Bentuk L sebuah bangunan hunian adalah bentuk yang ideal dalam hal mengatasi kebisingan. Sedangkan bentuk U cocok  untuk bangunan komersial, dengan catatan ruang antar kiri kanan bangunan tidak digunakan untuk kendaraan.

III. Penghalang Buatan

Penggunaan barrier buatan bisa diaplikasikan ketika penghalang alami kurang maksimal dalam mengurangi kebisingan. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam perencanaan penghalang buatan diantaranya adalah :

1. Posisi/Peletakan

Posisi yang dimaksud adalah jarak penghalang dengan bangunan. Pada tempat yang lapang, jarak bisa dengan mudah diatur. Namun ketika dihadapkan dengan lahan yang sempit, harus dipikirkan secara lebih matang. Misalkan, perlunya pagar keliling depan bangunan yang menghadap jalan raya. Kemudian peletakan posisi pintu gerbang sebaiknya menghadap bagian bangunan yang kosong, atau lapang, dan tidak memerlukan ketenangan yang leih dari ruangan lain.

2. Dimensi

Dimensi yang dimaksud disini mempunyai dua unsur, yakni ketebalan dan ketinggian. Pada kondisi dimana bangunan sejajar dengan ketinggian jalan, maka jarak antara bangunan dan penghalang buatan lebih gampang diatur. Namun ketika bangunan lebih tinggi konturnya daripada jalan, maka ketinggian penghalang menjadi faktor yang utama. Perlu diketahui, gelombang bunyi bisa berdefraksi ketika melewati penghalang. Jadi untuk mendapatkan barrier yang maksimal, barrier sebaiknya lebih tinggi daripada dinding bangunan terdekat. Selain itu bisa diakali dengan memberikan ruang lapang dibelakang barrier, sehingga defraksi bunyi jatuh ke ruang lapang tersebut, tidak langsung menabrak dinding bangunan.

3. Material

Peletakan dan dimensi saja tidak cukup untuk mendapatkan barrier yang maksimal. Kita tahu bunyi akan memantul atau terserap tergantung permukaan penghalang yang ditabrak. Bunyi dapat menembus celah2 yang sangat kecil sekalipun, sehingga, penggunaan penghalang yang kokoh, rigid, dan permanen sangatlah disarankan.

4. Estetika

Faktor estetika dalam analisis barrier tidak begitu diperhatikan. Namun secara arsitektural menjadi sangat penting, karena biasanya posisi barrier ada di bagian depan bangunan. Untuk itu, meskipun sudah terpenuhi antara posisi, dimensi dan materialnya, namun ketika berbentuk kurang bagus, akan sangat menurunkan nilai komersial bangunan. Saat ini beragam kreatifitas untuk mempercantik barrier/penghalang bising sudah banyak dikembangkan.

( Sumber : Akustika Bangunan )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s