Wawancara Singkat Bersama Arsitek UGM Jazz


Posted on 30 May 2009 by Ceto Mundiarso

Sebagian besar kita barangkali mengenal A. Tony Prasetiantono, Ph.D. melalui ulasan – ulasan tajam dan jelas dalam permasalahan ekonomi di berbagai media massa atau di lingkungan kampus. Namun kali ini, tim wartajazz menemui mas Tony melalui telepon selaku setengah ekonom dan setengah direktur artistik dalam penyelenggaran UGM Jazz. Wawancara ini dilakukan beberapa hari sebelum digelar konser UGM-BNI Jazz 2009 pada tanggal 23 Mei 2009 lalu, berikut cuplikan wawancaranya:

Wartajazz (WJ): Bagaimana cerita awalnya mencetuskan pertunjukan musik jazz di Jogja?

A Tony Prasetiantono (ATP): Kita berawal di tahun 1987. Secara umum ketika itu di Indonesia sedang demam fusion. Ada banyak nama kelompok fusion yang terkenal, salah satunya adalah Karimata. Selain itu saya juga menampilkan Ruth Sahanaya dan Embong Rahardjo, di mana ketika itu masyarakat banyak yang menyukainya.

WJ: Mengapa musik jazz?

ATP: Karena pada waktu itu belum banyak promotor musik yang melakukannya. Promotor lebih sering menampilkan musik rock atau pop bahkan sampai sekarang. Kebetulan musik jazz belum banyak yang menggarap dan saya ingin membuat format lain dari pada yang lain yaitu jazz. Ini bisa menjadi niche. Kebanyakan tontonan musik jazz di Jojga hanya dalam scope yang lebih kecil seperti di café atau hotel, masih jarang dilakukan di sebuah gedung yang mempunyai daya tampung ribuan penonton.

WJ: Bagaimana mengatur acara tersebut di samping kesibukan mas Tony?

ATP: Memang tidak terlalu mulus. Saya selesai mengambil program doktoral (Australian National University, Canberra -red) di tahun 2005. Rencananya langsung mau menggelar acara di tahun 2006, tetapi dengan adanya bencana gempa bumi, akhirnya kita tunda. Baru terlaksana tahun 2007. Selama ini saya selalu didukung oleh para teman dan mahasiswa dalam melaksanakan program ini. Dalam kesempatan ini para mahasiswa juga membutuhkan pengalaman berorganisasi. Mereka melatih dirinya secara profesional. Hal tersebut bekerja secara estafet dari tahun ke tahun. Tiap tahun ada saja “kegilaan” mahasiswa yang berminat sama untuk berkorban dan memang penyelenggaraan acara seperti ini perlu “orang gila”. Artinya banyak improvisasi di dalamnya. Selain itu, konsep acara menjadi peranan yang penting. Termasuk bagaimana dengan semua masalah produksi, sponsor, artis, publikasi sampai masalah artistik.

WJ: Masalah artistik juga masih menjadi bagian yang digarap mas Tony sendiri?

ATP: Ya, dalam pikiran saya masih ada banyak hal seperti bagaimana masalah tata artistik panggung, penentuan design dan warna logo acara sampai menentukan siapa saja yang akan tampil. Ini menjadi bagian yang penting juga. Saya selalu menimbang dan memperhitungkan siapa saja artis yang matching dengan konsep acaranya.

WJ: Mengapa selama ini belum menyentuh para musisi lokal yang sudah banyak bermunculan?

ATP: Kita sebenarnya mempunyai rencana sendiri mengenai hal itu. Mungkin akan dilaksanakan dalam format yang berbeda dengan UGM Jazz di lingkungan Fakultas Ekonomi & Bisnis UGM. Di sana juga sudah dipersiapkan sebuah selasar untuk kegiatan mahasiswanya. Rencananya acara ini bakal digelar pada September nanti bersamaan dengan Dies Natalis Fakultas tersebut.

WJ: Tentu tidak semua hal di atas berjalan mulus, apa suka dukanya?

ATP: Gagal mengejar seorang artis. Meski hal ini menjadi bagian dari seni mengelola acara. Sering juga karena masalah ketidakcocokan di antara para artis. Kita selalu menyiapkan plan A, plan B atau C.

WJ: Apa tanggapan mas Tony setalah acara ini menjadi bagian dari UGM sendiri?

ATP: Saya senang sekali bisa ikut berpatisipasi membawa nama UGM. Itu terjadi ketika tahun 1999 bersamaan Dies Natalis UGM ke-50. Meski Jazz 50 Tahun UGM baru terselenggara tahun 2000, namun masih dalam nuansa ulang tahun ke-50. Tahun ini akan ada rencana juga menyambut Dies Natalis UGM ke-60.

WJ: Bagaimana proyeksi ke depannya?

ATP: Kita akan selalu mengusahakan kontinyunitasnya per tahun. Tentu dengan adanya peningkatan kualitas. Konsekuensinya adalah ada peningkatan biaya dalam produksi, publikasi mau pun artistik. Kita ingin yang datang mendapat reward yang layak. Kita pertahankan image yang bagus tentang acara ini. Salah satunya adalah tidak ada ceritanya kalau UGM Jazz molor. Kita selalu on time 19:30. Selain itu, sudah banyak artis yang berobsesi untuk tampil di UGM Jazz.

WJ: Bagaimana dengan obsesi mas Tony sendiri?

ATP: Bisa menyelenggarakan UGM Jazz ini menjadi ajang musik internasional. Ini hanya masalah waktu saja.

WJ: Bagaiamana persiapan untuk UGM-BNI Jazz 2009 kali ini? Ada yang spesial?

ATP: Dalam beberapa kali awal UGM Jazz ini berlangsung, terlihat masih didominasi dengan genre fusion. Dalam perjalanannya mengalami beberapa perubahan. Ada perluasan variasi dalam hal genrenya. Di tahun ini saya mulai mencoba untuk menampilkan genre yang lebih kental jazznya dengan kehadiran Ireng Maulana. Selain itu, unsur etnis-fusion juga saya bawa dengan tampilnya I Wayan Balawan. Tentu juga kita pasang Andien dan pendatang baru pemain viola instrumental-pop yang energik Maylaffayza sebagai daya tarik anak – anak muda. Strategi ini bisa merangkul lebih luas lagi para pecinta musik jazz di Jogja mau pun daerah sekitarnya. Tahun ini juga adalah pertama kalinya kita menampilkan 3 sesi pertunjukan (sebelumnya hanya 2 sesi).

WJ: Sampai saat ini, H-6, penjualan tiketnya apakah sudah sold-out?

ATP: Saya belum ada laporan persisnya sudah berapa persen terjual. Namun memang tidak seperti tahun lalu ketika seminggu sebelum pertunjukan tiket sudah habis terjual. Namun saya optimis kalau nanti akan habis juga.

WJ: There is not bussines like show biz’. Ada rencana membuat buku tentang show bussines?

ATP: Menarik juga itu. Mungkin suatu saat nanti saya akan membuatnya.

Sumber : Copy Paste dari Wartajazz.com

Satu pemikiran pada “Wawancara Singkat Bersama Arsitek UGM Jazz

  1. Arsitek Tony Prasetiantono adalah arsitek senior Indonesia yang pemikiran dan karyanya bagitu menginspirasi. Saya selalu mengikuti ulasan-ulasan beliau dari berbagai media seputar dunia arsitektur. Yah, makin menambah wawasan. Kebetulan sy juga seorang arsitek yang bekerja di salah satu biro arsitek di Jakarta.
    Ditunggu artikel berikutnya.

    Wassalam,
    Retno
    (arsitek)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s