Big Band setelah era Big Band


Posted on 11 August 2007 by Ceto Mundiarso

Di awal tahun 1950an, kelompok big band yang dipimpin oleh komposer dan arangger Eddie Sauter dan Bill Finegan sedang tampil di Nebraska. Malam itu, beberapa penonton yang berisik mendekat ke arah panggung dan meneriakan “Mengapa kalian tidak dapat memainkan sesuatu yang dapat membuat kita bergoyang?”. Sonny Russo, seorang pemain trombon dengan spontan menjawabnya, “Mengapa kalian tidak menari dengan sesuatu yang kami mainkan?”. Itulah ceritanya jika ada satu cerita yang dapat merangkum apa yang terjadi dengan big band setelah era Swing.

Sebenarnya setiap kelompok big band di dalam era Swing utamanya adalah digunakan sebagai sebuah kelompok pengiring tarian di lantai dansa. Meskipun setelah paska Perang Dunia II kelompok big band terbaik tetap berfungsi seperti itu. Musik jazz, dimana dia dimainkan dengan formasi personil yang banyak maupun sedikit dapat dikonsumsi dengan berbagai macam motif untuk mendengarkannya. Apakah hanya dinikmati saja alunan musiknya ataupun didengarkan dengan serius, merupakan hak intepretasi masing-masing pendengar.

Big band setelah era Swing mengalami perubahan yang disebabkan oleh banyak faktor. Banyak musisi jazz pada masa Perang Dunia II terpaksa bergabung dengan angkatan bersenjata (kurang lebih seperti Wamil kalau di Indonesia). Meningkatnya harga bahan bakar kendaraan yang menyebabkan berkurangnya kelompok-kelompok yang melakukan tour. Semasa perang tersebut, larangan untuk rekaman oleh Persatuan Musisi untuk melawan permasalahan royality yang belum tuntas dalam penyiaran di radio menyebabkan banyak orang menganggur sampai masalah tersebut terpecahkan. Walaupun demikian, hal itu ada sisi positifnya kalau dirasakan sampai sekarang ini. Yaitu industri rekaman mempunyai semacam lembaga perlindungan untuk menampilkan karya musik ataupun pendanaan pertunjukan-pertunjukan para musisi dari berbagai jenis (Music Performance Trust Fund). Meskipun di masa Perang Dunia II itu bagi kelompok big band dibaca sebagai sebuah musibah. Resesi kedua datang setelah masa Perang Dunia II yaitu diterapkannya sebuah pajak hiburan sebesar 20% dan semakin banyaknya acara hiburan di televisi.

Sebagai akibatnya, karya-karya kelompok big band yang berorientasi sebagai pengiring dansa semakin berkurang. Ada sesuatu dalam proses perubahan. Para penulis, aransir dan pemimpin big band sedang mengembangkan pola artistik sebagai tujuannya yang membuat mereka keluar dari kelaziman musik populer.

Salah satu seorang pioner yang muncul setelah periode Perang Dunia II adalah Boyd Raeburn, seorang pemain saxophone tidak terkenal dan mantan pemimpin sebuah kelompok big band komersil. Pada masa jaya kelompoknya tersebut (1944 – 1948), dia banyak menggunakan musisi terkemuka termasuk Dizzy Gillespie, Al Cohn, Lucky Thompson, Serge Chaloff, Frank Socolow, Johnny Mandel dan Buddy De Franco. Selain itu dia juga memberikan kesempatan untuk memimpin bandnya kepada aranger seperti Eddie Finckel, Johnny Richard dan yang paling penting adalah George Handy. Meskipun dengan bakat yang menonjol dari kelompok tersebut, gaya musiknya masih terasa asing pada waktu itu.

 

Sumber : Copy Paste dari Wartajazz.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s