Barry Likumahuwa’s Style


Posted on 05 March 2010 by Dwi Ratna

Begitu besarnya peran style performance/stage act (gaya bermusik terutama dipanggung) seorang artis dalam memberikan pengaruh sebuah pertunjukan tentunya selain kualitas bermusik yang juga baik. Diluar negeri kita bisa melihat Jaco Pastorius dengan gaya penampilan santai dan simplenya entah pada komposisi apapun yang memberikan pengaruh besar khususnya anak muda untuk menyukai musik yang dimainkan dengan bass melalui style (gaya) yang dia usung. Diluar jazz, kita bisa melihat Kurt Cobain dengan Nirvananya dan banyak contoh-contoh pengidolaan lainnya didalam dan diluar dunia musik.

Sama halnya dengan Barry Likumahuwa, dengan style performance dalam bermain bass yang enerjik, kasual dan kualitas permainan yang juga berisi dan menarik, dipadukan dengan gaya musik fusion dan funk yang banyak disukai remaja, dan lirik manis berkisar kisah percintaan yang kerap mewarnai gaya hidup anak muda. Lalu kesan komunikatif Barry kepada penonton di atas panggung, misalnya dengan menceritakan kisah dibalik sebuah lagu, lengkap menjadikan Barry packaged dengan mengusung Barry Likumahuwa Project dalam suguhan yang siap untuk digemari dan diminati, khususnya anak muda disekitar usianya.

Seringkali juga ditemui sang ayah Benny Likumahuwa dalam sesi ‘featuring’, dengan memainkan trombone, saxophone ataupun flute mengiringi lagu Barry dengan sketsing masing-masing instrumen. Lalu Utha Likumahuwa pada posisi vokalis, dalam keadaan ini biasanya akan muncul kembali hits lama seperti ‘Entah dimana’ dan ‘Esok kan Masih Ada’.

Nama Barry memang kerap tak lepas dari kedua nama tersebut, namun jangan diragukan ketika bicara soal kualitas bermusik, karena ia juga mahir ketika mempraktekkan teknik-teknik bermain bass seperti teknik tapping, slapping, chopping dan lain-lain.

Kiprahnya pada dunia musik diawali dengan membantu berbagai macam proyek musikal seperti pada album Glenn Fredly ‘Selamat Pagi Dunia’ Repackaed 2004, ‘Parkdrive’ 2005, Glen Fredly ‘Cinta Silver’ 2005, ‘Bass Heroes’ 2006, Glenn Fredly ‘TerangChristmas album 2006, sebagai music director untuk “Tribute to Chris Kaihatu” Java Jazz Festival 2006, music director untuk ‘Tribute to Karimata’ Java Jazz Festival 2007, dan proyek lainnya. Terakhir tentunya debut albumnya berjudul ‘Goodspell’ 2008 dengan beberapa hits andalan diantaranya ‘Saat Kau  Milikku’, ‘Aku dan Hadirmu’, ‘My Prayers’, dan ‘Kuingin Mati Saja’.

Melalui bass, Barry seolah ingin menunjukkan eksistensi bass dalam sebuah band ketika memainkan musik, di mana fungsinya tidak hanya untuk menjaga rhythm melainkan menjadi melodi yang memimpin.

 

Sumber : Copy Paste dari Wartajazz.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s