Arsitek Jogja : The Little CRS “Das Winziges Haus” – Tiny House


The CRS compact house
CRS-the iconic monochrome
Rumah Ibu Christiana

 

Rumah mungil dengan gaya modern kontemporer ini merupakan desain hasil renovasi salah satu unit hunian di perumahan Sedayu, Bantul, D.I. Yogyakarta. Konsep tersebut terlihat cukup jelas dari dominasi penggunaan elemen kaca dan bentuk-bentuk geometri sederhana pada fasad depan nya.

CRS House ini dimiliki oleh Ibu Christiana dan suaminya yang berkebangsaan Swiss, Bapak Frank. Awalnya mereka membeli sebuah rumah kecil di salah satu kompleks perumahan di daerah pinggiran kota Jogja. Mereka berencana akan menggunakan rumah tersebut sebagai rumah singgah yang dapat digunakan saat mereka sedang ada perjalanan ke Indonesia. Dengan demikian, mereka ingin membuat kesan “rumah kedua” yang ada di Indonesia dari pada harus menyewa hotel ataupun apartemen saat mereka sadang berkunjung.

Sebagai penduduk yang lama tinggal di salah satu negara maju di eropa itu, perhatian mereka akan detail-detail pada rumah serta standar kebutuhan gerak akan terasa cukup berbeda. Ada beberapa bagian yang perlu dibenahi dan ditambahkan dari bangunan eksisting tersebut. Oleh karena itu, klien kami Ibu Christiana dan Bapak Frank menggunakan jasa arsitek kami untuk memenuhi kebutuhan yang ada. Lebar lahan yang mereka miliki adalah sekitar 12 meter, dengan bangunan eksisting yang rapat ke sisi kanan. Di sisi kiri masih tersisa space dengan lebar 3,5m yang saat ini adalah tanah kosong dan terkadang digunakan sebagai area parkir kendaraan. Terdapat 3 hal yang menjadi konsern utama klien kami dalam perancangan rumah CRS ini.

Hal yang pertama adalah pengadaan ruang makan utama di area belakang. Budaya mereka selama tinggal di Swiss adalah adanya konsep makan malam bersama. Sehingga desain ruang makan ini menjadi sangat penting. Area yang kami gunakan untuk dinning room ini adalah space di belakang rumah yang awalnya terbuka -kemungkinan sebagai area jemur. Kami biarkan konsep lantai eksisting yang sudah di plester, hanya kami berikan acian yang kemudian di polished agar kesan menjadi lebih steril. Furniture yang digunakan dominan menggunakan kayu jati, baik dari meja, kursi, ceiling fan, kisi kisi, serta penutup anak tangga. Elemen ini diperkuat dengan batu alam tempel di sisi dinding belakangnya dengan tambahan beberapa tanaman pot gantung. Perpaduan tersebut diharapkan akan menimbulkan konsep lokal iklim tropis kita. Selain itu, area ruang makan ini tidak tertutup secara keseluruhan, dibagian ujungnya dicover dengan kaca, sehingga cahaya alami dapat masuk kedalam ruang. Dinding yang awalnya masif sebagai pembatas ruang dalam dengan luar, kami rubah menjadi bukaan besar dengan pintu lipat. Hal tersebut bertujuan untuk membuat ruang menjadi lebih fleksibel, melancarkan sirkulasi udara, serta memberi kesan luas.

 

Poin kedua adalah main bedroom atau kamar utama. Kamar eksisting yang saat ini digunakan dirasa terlalu kecil dan kurang nyaman untuk aktivitas gerak nya. Dengan demikian, setelah beberapa pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk meletakkan kamar utama ini di atas tanah sisa yang memiliki lebar 3,5 meter tadi. Panjang tanah ke belakang adalah 9,3 meter, dengan balkon kecil area depan, serta ketentuan GSB perumahan minimal 1,5 meter, sehingga area yang digunakan untuk kamar kurang lebih 3,5 x 7 meter persegi. Luas tersebut sudah termasuk kamar mandi dan area tangga, sehingga ruang tidur bersihnya berukuran sekitar 14,5 meter persegi. Ruang kamar tersebut dilayout dengan cukup sederhana, hanya berisi dipan king-size, meja TV, serta satu lemari pakaian. Lantai dan furniturenya juga menonjolkan elemen kayu yang kuat, dengan tone campuran warna putih, sehingga dapat memberi kesan bersih dan hangat. Kamar eksisting digunakan untuk tamu, maupun penjaga rumah jika sang pemilik sedang tidak di Indonesia.

Bagian ketiga, adalah pada tampilan fasad bangunan. Dengan adanya tambahan gubahan massa baru di sisi lahan kosong tadi, sehingga perlu adanya penyesuaian pada wajah bangunan eksisting. Hal ini agar kedua bangunan dapat menyatu dengan baik. Namun agar tidak terlalu banyak memakan biaya perombakan, kami mencoba melakukan perubahan seefisien mungkin. Yang kami lakukan diantaranya, tidak merubah bentuk asli atap, hanya penyesuaian di material penutup atapnya. Warna bangunan yang awalanya kombinasi putih dan hijau cerah, kami ganti menjadi lebih terkesan monokrom dengan warna abu-abu dan putih. Kami menggunakan batu alam tempel di salah satu sisi dinding dan aksen kayu vertikal pada bidang transisi. Unit AC outdoor yang sering menjadi kendala di fasad, juga kami cover dengan kisi-kisi di bawah atap, sehingga terasa kesan void solid yang menarik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.