Arsitek Jogja : Arsitek itu (seakan-akan) Ahli Segalanya


Ini murni opini pribadi saya yang sebenarnya sudah cukup lama ingin saya utarakan. Ini adalah apa yang saya pahami dan saya jumpai dalam kehidupan sehari-hari dalam menjalani keilmuan yang menjadi latar belakang pendidikan saya.

Arsitek, bagi sebagian besar masyarakat dipandang sebagai sebuah profesi yang mempunyai posisi cukup tinggi. Banyak sekali saya jumpai orang-orang mengatakan bahwa arsitek itu mempunyai penghasilan yang besar, arsitek itu level hidupnya tinggi, arsitek itu seseorang yang sangat ahli dalam bangunan dan lingkungan.

Pendapat mengenai penghasilan dan sebagainya, saya anggap sebagai “wang sinawang” dalam bahasa jawa yang artinya, apa yang terlihat belum tentu apa yang sebenarnya. Jadi mengenai penghasilan, saya pikir itu merupakan rejeki masing-masing dari sang pencipta, hehe…

Sedangkan mengenai pendapat yang terakhir, bahwa seorang arsitek adalah ahli dalam bangunan, saya pikir perlu diurai lebih lanjut.

Arsitek ahli segala bidang?

Arsitek, dirunut dari asal katanya, adalah tukang batu. Seiring perkembangan zaman, saat ini arsitek menjadi sebuah profesi yang diakui oleh masyarakat sebagai seorang perancang bangunan. Di Indonesia sendiri saat ini sudah ada undang-undang yang mengatur tentang profesi arsitek. Adanya undang-undang ini, selain sebagai payung hukum bagi arsitek, juga agar kerjasama yang dilakukan antara arsitek dan pemberi tugas mempunyai dasar hukum yang jelas, terutama apabila nantinya terdapat masalah yang timbul dari adanya kerjasama tersebut.

Arsitek dalam kacamata awam adalah seorang yang sangat mengerti tentang bangunan. Arsitek harus menguasai beberapa hal yang sebenarnya bukan menjadi ranahnya. Dan hal ini sangat umum terjadi di masyarakat ketika mereka menggunakan jasa arsitek. Saya sendiri mempunyai pengalaman dimana banyak teman, saudara, kenalan, bahkan klien saya yang menanyakan hal-hal yang akhirnya memaksa kita seakan-akan ahli dalam bidang tertentu diluar apa yang kita dapatkan dari pendidikan arsitektur.

Dari pengalaman tersebut, saya mempunyai pendapat bahwa arsitek terkadang harus (seakan-akan) menjadi ahli dalam bidang :

  • Pelukis – arsitek harus bisa menghasilkan goresan gambar bangunan yang bagus di atas kertas (meskipun saat ini menggunakan komputer)
  • Ahli Struktur – arsitek dituntut mengerti tentang seluk beluk struktur bangunan, mulai dari dimensi dan bahan pondasi, dimensi kolom, ukuran besi tulangan, pembesian cor pelat beton, jenis dan pemasangan rangka atap, dll)
  • Psikolog – arsitek dituntut untuk bisa mengerti dan memahami perilaku manusia
  • Ahli Fisika – arsitek dituntut untuk mengerti tentang suhu, kelembaban, angin, radiasi matahari, cuaca, curah hujan, dll
  • Ahli Biologi – arsitek dituntut untuk mengerti tentang perilaku binatang di ekosistem sekitar (rayap, nyamuk, serangga, binatang melata, dll)
  • Sosiolog – arsitek dituntut mengerti tentang hubungan sosial pengguna dengan masyarakat, efek samping adanya bangunan terhadap kehidupan sosial sekitarnya
  • Bisnisman – arsitek sering dituntut untuk memberikan peluang-peluang bisnis dengan bangunan yang dirancangnya, terkadang sampai dengan kepastian apakah barang yang dijual akan laku atau tidak di daerah dimana bangunan dirancang
  • Supplier bahan bangunan – arsitek dituntut untuk mengerti tentang semua material bangunan (nama bahan, sifat, ketahanan, harga, dapat dibeli dimana, dll),
  • Kontraktor – arsitek dituntut untuk mengerti tentang tenaga kerja pembangunan (berapa upah per hari, kira-kira selesai berapa lama dengan berapa tenaga kerja, dll)
  • Ahli Geologi – mengerti tentang kondisi tanah (apakah daya dukung tanah bagus, berapa kedalaman sumur resapan, dll)
  • Ahli-ahli lainnya yang mungkin harus dipenuhi karena tuntutan masyarakat

Terkadang, ada arsitek yang juga mendalami satu atau beberapa hal diatas. Sehingga arsitek benar-benar menguasai bidang tersebut. Namun banyak juga arsitek-arsitek yang sebenarnya tidak begitu mendalami, hanya mengerti sebagian dari keilmuan tersebut, bahkan hanya bermodal “konon dan katanya”.

Penyebabnya apa?

Perlu diperjelas bahwa ilmu-ilmu tersebut memang menjadi dasar lahirnya sebuah desain. Sebuah desain yang berwujud bangunan mempunyai “isi” beberapa keilmuan tersebut, bahkan semuanya. Lalu, bagaimana arsitek bisa begitu yakin dengan keilmuan yang sebenarnya tidak dipelajari secara resmi di ranah akademisnya?

Dari semenjak kuliah, mahasiswa arsitektur dituntut untuk mempertanggungjawabkan semua yang dilakukan demi lahirnya semua desain. Ibaratnya, setiap tarikan garis itu ada alasannya. Tidak boleh sembarangan membuat desain, harus ada latar belakang. Dan alasan-alasan tersebut berisi poin-poin yang saya jabarkan diatas.

Selama menjalani tugas sebagai seorang pendidik di jurusan arsitektur, saya sangat sering menjumpai mahasiswa membuat latar belakang atau alasan sebuah desain dengan poin-poin diatas, yang sayangnya, mengada-ada. Dan karena memang tuntutan desain, mereka terpaksa mengarang alasan yang mereka rasa logis, namun tanpa dasar. Bahkan sering saya jumpai mahasiswa yang “ngeyel” ketika diberitahu bahwa alasan yang dipakainya tidak logis.

Karena kebiasaan tersebut, hal ini terbawa ke dunia kerja. Alasan-alasan yang tidak logis, hanya berdasar konon dan katanya sering dilontarkan baik dalam bentuk verbal maupun tulisan. Dan efeknya di masyarakat, mereka menuntut hal yang sama ; arsitek seharusnya ahli dalam segala hal yang berkaitan bangunan dan lingkungan sekitarnya.

Apakah memang harus seperti itu?

Menurut saya, hal tersebut kurang tepat. Bagi saya, arsitek adalah tim leader dari sebuah kelompok yang berisi orang-orang yang berkompeten dalam bidang-bidang tersebut. Arsitek adalah orang yang mempunyai gagasan berupa konsep bangunan secara utuh menyeluruh, yang pada setiap dasar dan detail, terdapat alasan yang dapat dipertanggungjawabkan karena bersumber dari orang yang kompeten, bukan dari diri sang arsitek sendiri.

Dan yang paling penting dan perlu diingat, alasan yang disampaikan belum tentu mempunyai efek positif karena baru sebatas ide dan gagasan dalam konsep. Yang membuktikan berlaku positif atau tidak adalah waktu. Setelah bangunan selesai dibangun dan digunakan, baru akan terasa apakah alasan dan latar belakang di konsep awal mempunyai hasil yang baik, atau justru akan menimbulkan masalah di aspek yang lain.

Jangan salah, pada beberapa bangunan karya arsitek-arsitek terkenal, di level dunia sekalipun, masih terdapat beberapa masalah yang justru ditimbulkan oleh konsep-konsep menarik di awal perencanaannya. Anda bisa mencari sendiri informasi tersebut di berbagai sumber.

Jadi sah-sah saja ketika anda bertanya kepada arsitek dan ternyata arsitek belum bisa menjawab. Mungkin karena memang tidak mendalami bidang tersebut, atau memang belum pernah mengalami kasus dari masalah yang anda tanyakan sehingga belum berpengalaman. Lalu apakah dia arsitek? Bisa jadi… 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.