Arsitek Jogja : Pengertian Type Rumah, Luas Bangunan dan Luas Lahan


Banyak sekali rekan, kenalan, saudara, atau bahkan masyarakat umum yang bertanya ke saya dengan pertanyaan seperti “saya mau bangun rumah type 36 (atau type lain) kira-kira habis dana berapa ya?”. Atau pertanyaan lain seperti “kalau mau bikin rumah type 45 itu biasanya berapa kamar tidur ya?”. Juga pertanyaan-pertanyaan lain yang berkaitan dengan “type” rumah.

Sumber : flickr.com

Nah tahukah anda apa yang dimaksud dengan type rumah tersebut? Mengapa berwujud angka-angka seperti 21, 36, 45, 54, 60, dan lain-lain? Apa artinya itu?

Sejauh yang saya teliti dan pahami, angka-angka tersebut merupakan luas bangunan rumah. Apa itu luas bangunan? Yaitu luas permukaan lahan yang tertutup oleh bangunan anda. Sehingga rumah type 36 artinya adalah, luas bangunan rumah tersebut adalah seluas 36 m2. Begitu juga dengan type-type yang lain. Meskipun demikian, karena desain dan bentuk lahan yang berbeda-beda, maka luas bangunan bisa jadi tidak persis sesuai angka namun selisihnya hanya sedikit alias mendekati.

Lalu apa artinya sebuah tulisan dalam brosur perumahan, kata-kata type 60/120? Angka dibelakang garis miring adalah luas lahan. Sehingga arti dari 60/120 adalah, rumah tersebut mempunyai luas +/- 60m2 diatas lahan seluas 120m2. Apabila bangunan tersebut dua lantai, maka luas bangunan adalah luas lantai 1 ditambah luas lantai 2.

Istilah type ini dipopulerkan oleh para developer untuk mempermudah mereka dalam memperkenalkan produk property mereka. Type-type tersebut menjadi familiar dan mudah diingat oleh masyarakat dan menjadi patokan dalam membuat produk property. Sehingga masyarakat mudah dalam menentukan pilihan rumah dengan luasan berapa yang akan mereka beli.

Sebenarnya untuk kami para arsitek, istilah type justru tidak populer. Mengapa? Karena kami cenderung melihat bangunan secara ruang, bukan type. Bangunan bisa mempunyai luasan berapapun sesuai dengan kebutuhan ruang, luas lahan, dan aturan KDB/KLB setempat.

Apabila anda ingin desain dibantu oleh arsitek, sampaikan data-data awal seperti kebutuhan ruang, luas lahan, aturan setempat dan data-data lainnya. Arsitek akan mengkalkulasi luasan bangunan yang nantinya akan terbangun. Apakah luas tersebut sesuai dengan luas lahan dan aturan KDB/KLB atau tidak. Diskusi akan terus berlanjut sampai dengan desain jadi, dan tidak ada membahas “type” bangunan :D.

Kecuali, anda adalah seorang developer yang akan menjual produk properti berupa perumahan, anda bisa menyampaikan “type” tersebut kepada arsitek, semata-mata hanya untuk menentukan luas bangunan tiap unit saja. Selebihnya, proses akan sama dengan perencanaan bangunan rumah lainnya.

Setelah membaca sedikit artikel ini, saya mengharapkan agar anda tidak terpaku pada “type” namun utamakan kebutuhan ruang anda. Pastikan luas bangunan yang akan anda bangun sesuai dengan kebutuhan, efisien, tidak melanggar aturan setempat, dan tentu sesuai dengan budget. Perlu diingat bahwa luas bangunan bukan satu-nya faktor yang menentukan biaya pembangunan. Faktor lain yang tak kalah penting dalam menentukan biaya pembangunan adalah desain, jenis bangunan, dan spesifikasi material yang digunakan. Selamat membangun…!! 🙂

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.