Arsitek Jogja : Mengunjungi Punthuk Setumbu dan Gereja Ayam di Magelang


Tour Ke Punthuk Setumbu dan Gereja Ayam

Setelah tour kami sebelumnya ke Museum OHD, pada hari yang sama kami lanjutkan ke objek wisata Punthuk Setumbu dan dilanjutkan ke Gereja Ayam. Perjalanan kami jeda sebentar dengan mengisi perut di Warung Spesial Sambal (SS) sekalian sholat Dzuhur.

Setelah selesai ishoma, kami mulai perjalanan ke Punthuk Setumbu. Dalam perjalanan menuju objek tersebut, kami menyempatkan diri mampir ke lokasi Perumahan Sudiro Green Residence yang pernah kami desain.

Jalan menuju Punthuk Setumbu ternyata cukup curam elevasinya. Beruntung mobil yang kami tumpangi kuat sampai ke lokasi. Pada saat kami datang, parkir cukup lengang hanya ada mobil kami saja. Karena kami kesana pada hari dan jam kerja.

Menuju gerbang masuk, jalan menanjak. Loket tiket berada tak jauh dari gerbang. Gerbang sederhana dengan tulisan selamat datang mengawali jalan setapak menanjak menuju lokasi. Sepanjang jalan setapak setelah pintu masuk terdapat beberapa warung dan kios menjual souvenir, kaos, juga makanan.

Jalan setapak yang menanjak terbuat dari batu dan semen. Cukup jauh jalan yang kami lalui dan terus menanjak. Beberapa anggota tim yang ikut sudah merasa lelah sehingga harus beberapa kali berhenti untuk istirahat. Ternyata kami tidak sendiri, ada pengunjung lain yang juga sedang dalam perjalanan naik dan beristirahat.

Lokasi yang kami tuju merupakan tempat yang bisa melihat Candi Borobudur dari atas bukit. Pemandangan yang terhampar lebih kepada bentang alam sekitar. Candi Borobudur terlihat kecil diantara rimbunnya pepohonan yang berada di sekitarnya.

Sumber : hipwee.com

Punthuk Setumbu sendiri didesain cukup menarik, dengan permainan elevasi sebagai respon kontur lahan yang memang tidak satu level. Terdapat gazebo, ayunan, dan tempat untuk berfoto ria atau selfie tersebar di area ini. Tempat untuk melihat pemandangan arah Candi Borobudur adalah tempat yang paling lapang, dibuat dengan struktur konstruksi baja dilapis dengan kayu sebagai lantainya.

Sumber : Liputan 6.com

Beberapa pengunjung lain mulai berdatangan ketika kami sedang beristirahat di lokasi. Bahkan ada pengunjung wisatawan mancanegara yang sempat minta anggota kami untuk memfoto mereka.

Sumber : beritamoneter.com

Lanjut cerita, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Gereja Ayam yang terlihat cukup jelas dari lokasi. Jalan menuju Gereja Ayam ternyata lebih terjal dan berliku daripada perjalanan awal yang kami lalui. Jalan setapak masih berupa tanah dan batu, dengan kanan kiri berupa hutan berisi pohon-pohon tinggi.

Gereja Ayam merupakan sebuah tempat ibadah yang terletak Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Bangunan tersebut terletak tak jauh dari Borobudur. Meskipun disebut Gereja Ayam, bangunan tersebut sebetulnya berbentuk burung merpati. Bangunan tersebut digagas pengusaha Daniel Alamsyah pada tahun 1990an – Wikipedia.

Sumber : travelspromo.com

Setelah bersusah payah menuju lokasi, akhirnya kami sampai di Gereja Ayam. Untuk masuk ke bangunan, kita harus membeli tiket. Tiket ini sudah termasuk voucher senilai sekian rupiah untuk dapat ditukarkan dengan makanan atau souvenir yang ada di dalam bangunan.

Masuk ke bangunan lewat pintu samping. Sebelum mencapai pintu ini, kita mengelilingi bangunan dulu karena ujung jalan setapak yang kami lalui berada di sisi yang berlawanan dengan pintu masuk ke bangunan. Dari dekat, bangunan terlihat cukup tinggi dikelilingin pohon jati di sekitar lokasi.

Pada pintu masuk terdapat banner berisi informasi mengenai bangunan ini. Dan disinilah kami baru tahu bahwa sebenarnya bangunan ini bukan berwujud ayam, tapi lebih tepatnya adalah merpati yang sedang duduk.

Masuk ke dalam bangunan, kita dihadapkan pada ruangan-ruangan kecil yang mempunyai fungsi sebagai ruang doa. Meskipun terkenal dengan nama Gereja Ayam, namun ruang-ruangan di dalamnya merupakan ruangan untuk berdoa berbagai agama. Terdapat musholla, ruang-ruang doa, serta bilik-bilik doa kecil di sepanjang lorong lantai paling bawah.

Naik ke lantai berikutnya terdapat ruang aula besar yang pada waktu kesana sepertinya akan digunakan untuk acara pernikahan. Kemudian naik le lantai berikutnya, ternyata kami sedang mulai menaiki bagian leher merpati. Total mencapai puncak adalah 7 lantai. Cukup ngeri juga karena ternyata bangunan ini sangat tinggi. Di puncak bangunan, terdapat lobang ke atas menuju mahkota merpati. Dari mahkota ini pengunjung dapat melihat pemandangan sekitar karena ruangannya terbuka. Namun untuk bisa naik ke mahkota ini, terbatas sekali naik maksimal 4-5 orang saja, mengingat struktur dan ukuran ruang mahkota yang cukup kecil.

Setelah puas berkeliling, kami menuju cafetaria yang ada di bagian β€˜ekor’ merpati. Kami menukarkan voucher tadi dengan sekotak kecil singkong goreng. Menurut saya cukup unik dan kreatif, menyajikan makanan lokal yang mungkin orang kota jarang mendapatinya.

Setelah istrirahat sambil menikmati singkong goreng dan pemandangan, kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Punthuk Setumbu dan dilanjutkan perjalanan kembali ke Yogyakarta. Perjalanan yang cukup melelahkan, namun terbayar dengan pengalaman yang kami dapatkan. Anda tertarik untuk kesana? Atau sudah? Silahkan sampaikan pengalaman anda di kolom komentar… J

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.