Arsitek Jogja : Tour Bareng YYAF Ke Salatiga (Objek 3 : Dancing Mountain House)


Objek yang kami kunjungi berikutnya adalah Dancing Mountain House karya Budi Pradono, arsitek senior Indonesia yang karyanya sudah mendunia. P House atau “Dancing Mountain House” ini berhasil meraih penghargaan sebagai proyek residensial terbaik seantero Asia dalam Arcasia Architecture Awards (AAA) 2016. Arcasia merupakan Dewan Arsitek Regional Asia yang dibentuk oleh 19 organisasi arsitek se-Asia mulai dari China hingga Pakistan.

Seperti ditulis Kompas, kemenangan “Dancing Mountain House” tak terlepas dari konsepnya yang mengedepankan peran arsitektur di tengah masyarakat dan kombinasi antara modernisasi dengan unsur tradisional. Ditulis Kompas, Budi Pradono membangun rumah ini bersama masyarakat, dengan menggunakan material alami yang dikombinasi balutan nuansa modern.

Rumah ini adalah rumah mendiang ayahnya, sehingga suasana intim keluarga masih kental terbawa dalam desain yang baru. Budi Pradono membawa nostalgia keluarga yang tidak terlepas dari sejarah sang ayah yang merupakan sosok pengajar. Untuk itu dalam rumah ini terdapat perpustakaan kecil yang dapat diakses oleh warga.

Pintu masuk dari rumah ini terbuat dari rangka besi yang diisi dengan bambu dan kayu. Ketinggian pintu dan pagar pun tidak terlalu tinggi sehingga dari jalan raya, separuh bangunan bagian atas masih jelas terlihat.

Begitu masuk ke dalam kompleks area rumah, langsung terasa nuansa yang dipenuhi dengan detail-detail arsitektural yang luar biasa. Tumpukan roster yang ditata selang seling “menghadang” kita agar tidak langsung nyelonong ke bangunan rumah secara tidak teratur. Tumpukan roster ini seakan memberikan aturan jalur masuk menuju rumah.

Meskipun kita tidak bisa secara langsung nyelonong ke arah rumah, kita masih dapat menikmati fasad rumah, karena ketinggian tumpukan roster tidak menghalangi pandangan kita.

Bangunan perpustakaan yang didedikasikan untuk ayah beliau yang seorang pengajar di Salatiga. Perpustakaan ini berbentuk lingkaran dengan dinding berupa kaca dengan frame besi. Hanya saja, pada saat kami kesana, ada salah satu kaca tersebut yang retak. Bangunan cukup sederhana, dengan lantai berupa semen telanjang, dan atap berbentuk lingkaran yang di tengah-tengah berlubang sehingga cahaya matahari dapat masuk secara bebas ke dalam ruangan. Rangka atap terbuat dari bambu yang menyerupai jaring yang berpusat di tengah ruangan.

Fasad depan dari rumah ini betul-betul merupakan kombinasi antara bahan alami dengan bahan fabrikasi modern. Namun kombinasi tersebut berhasil menyuguhkan detail arsitektural yang sungguh luar biasa. Permainan besi sebagai rangka kaca dinding tidak kalah detail daripada bambu yang menjadi “tokoh utama” dalam bangunan ini. Dinding kaca sepanjang fasad mengisyaratkan keterbukaan, menyatunya aktivitas dalam rumah dengan lingkungan sekitar. Meskipun demikian, saya cukup ngeri membayangkan apabila malam hari dan saya sendirian didalam rumah tersebut yang terbuka lebar secara visual ke arah kebun rimbun yang ada di sekitarnya.. 😀

Penutup atap yang terbuat dari bahan alami, memunkinkan untuk merembesnya air hujan masuk ke dalam bangunan. Untuk itu lapisan alumminium foil dipasang sebagai pelindung.Selain sebagai isolator panas, lapisan ini dapat melindungi dari tampias air hujan dan anti air.

Suasana dalam rumah sangat bebas tanpa adanya penyekat antar ruang yang memisahkan antar publik space. Ruang tamu, ruang baca, ruang keluarga, ruang makan dan dapur menjadi satu kesatuan ruangan yang tidak dipisah oleh physical barrier. Hal ini tentu membuat rumah terasa sangat lapang. 

Interior dalam rumah ini tidak luput dari detail arsitektural yang luar biasa. Dinding dalam rumah disusun dari batu bata yang di ekspose untuk menampilkan kesan natural. Beberapa dinding diberi lapisan semacam coating untuk mencegah lumut tumbuh. Untuk lantai juga hanya finishing semen aci saja. Beberapa bagian dinding menggunakan batu kali sebagai bahan penyusunnya.

Permainan bata, bambu dan batu terus ada sampai bagian rumah paling belakang. Ada yang cukup menarik di bagian belakang, yaitu tumpukan bata yang disusun silang menyilang dan berbentuk melengkung. Tumpukan bata ini secara sekilas visual tanpa menggunakan spesi sama sekali. Diatas tumpukan bata susun ini ditempatkan miniatur sepeda ontel lama.

Yang seadikit aneh, di ruang toilet, tepatnya di belakang closet, terdapat jendela kaca tinggi dengan sebagian besar adalah kaca bening. Dinding kamar mandi juga menggunakan bata ekspose, hanya saja, dilapisi cat warna putih untuk membuat kesan bersih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.