Arsitek Jogja : Tour Bareng YYAF Ke Salatiga (Objek 1 : Bumi Kayom)


Hari sabtu tanggal 27 Oktober 2018 yang lalu saya mengikuti kegiatan jalan-jalan arsitektur bersama dengan teman-teman se-profesi yang tergabung dalam Yogyakarta Young Architect Forum (YYAF). Kota tujuan kami adalah Salatiga, dimana disana ada beberapa objek karya arsitektur yang dibuat oleh arsitek yang telah ternama.

Berangkat dari jogja jam 7 pagi, saya yang berangkat bertiga bersama rekan saya Rainard Arditya Buana (direktur Rancang Bangun Parama) dan Mas Agus (yang sering mengerjakan pekerjaan besi di proyek kami) langsung menuju lokasi, tidak bersama-sama dengan teman-teman YYAF yang berangkat bersama-sama setelah berkumpul didepan kampus Atma Jaya Yogyakarta.

Perjalanan kami tempuh cukup lama karena perjalanan kami buat santai agar nyaman berkendara. Tidak lupa kami menyempatkan diri mampir sarapan soto di Klaten.

Tiba di lokasi tujuan, ternyata hampir berbarengan dengan teman-teman YYAF yang sudah duluan sampai. Kami langsung menuju ke objek pertama yaitu Bumi Kayom. Menurut informasi yang kami dapat, nama Bumi Kayom terdiri dari dua kata, “Bumi” – tempat di mana kita berdiri dan “Kayom” yang berarti pengasuhan. Dengan udara segar dan suasana yang damai, Bumi Kayom memiliki fasilitas seperti restoran dan kedai kopi yang dapat mendukung kita untuk berkumpul dan berekreasi, menikmati keindahan alam yang segar.

Permainan Roster Tanah Liat yang menyambut kedatangan tamu

Begitu kami masuk, kami langsung disuguhi permainan roster tanah liat yang disusun secara vertikal. Permainan pasangan roster ini ternyata menjadi poin dominan di seluruh kompleks Bumi Kayom, bahkan di area pabrik yang berada tak jauh dari lokasi.

Secara umum lansekap Bumi Kayom merupakan tanah berkontur dengan pepohonan yang sangat rindang. Kami disambut pohon durian dengan buah durian yang menggantung sangat banyak. Awalnya menjadi pertanyaan bagi kami tentang keselamatan para pengunjung dibawah pohon durian yang membuat “ngiler” sekaligus was-was, namun pertanyaan tersebut dijawab dengan bentangan jaring dibawah pohon-pohon tersebut.

Tulisan “Langit Senja” berada di depan cofee shop yang ada didalam kompleks bumi kayom. Pusat cafe ini berupa bangunan yang menggunakan struktur baja dan pelingkup kaca transparan. Suhu dalam ruangan tidak begitu panas, karena dibantu oleh penghawaan buatan yaitu AC dan dinaungi oleh pohon-pohon rindang di sekitarnya.

Kami disambut oleh pemilik dan diajak ke bawah melihat bagaimana pengolahan limbah terutama limbah makanan yang berasal dari cafe atau resto plus kantin karyawan. Hal yang cukup mengejutkan ternyata pengolahan limbah makanan menggunakan media lalat. Media lalat ini digunakan untuk mengurai limbah organik sehingga dapat digunakan sebagai kompos yang tidak menimbulkan bau.

Beliau juga mengatakan bahwa limbah air diolah kembali untuk digunakan lagi. Sekitar 75% air limbah dapat digunakan kembali untuk kebutuhan air di kompleks ini. Air menjadi hal yang sangat penting, mengingat syarat keluar masuk area pabrik, karyawan harus steril dengan cara cuci tangan. Hal ini tentu mengakibatkan banyaknya kebutuhan akan air bersih dalam kompleks pabrik.

Selepas penjelasan tentang kompos dan pengolahan limbah dari kompleks ini, kami kembali ke atas untuk masuk ke bangunan pabrik pengolahan sarang walet. Diajak berkeliling sebentar meskipun tidak masuk ke seluruh ruangan yang ada. Area pabrik pun banyak menggunakan roster tanah liat. Namun demikian, bagian dalam pabriknya terlihat benar-benar steril dan bersih.

Area masuk karyawan pabrik pengolahan sarng walet

Setelah kami berjalan-jalan di area pabrik, kami kembali ke area cafe “Langit Senja”. Saya memesan kopi dan teman-teman yang lain pun demikian. Ada beberapa teman yang mengajak keluarganya dalam tour ini. Mereka memesan makan siang di cafe tersebut.  Tidak lupa kami menyempatkan untuk sholat dzuhur di musholla yang didesain dengan bahan kayu untuk struktur maupun dinding pelingkupnya. 

Kombinasi yang digunakan dalam cafe ini adalah baja dan roster. Minimal, ini yang melekat pada mata pengunjung pertama kali. Saya sempat bertanya-tanya apakah roster-roster tersebut hanya ditumpuk saja, atau ada cara agar tidak roboh. Setelah saya dekati, untuk dinding roster yang sudah jadi ternyata dilapis pelat besi pada sisi tipis keliling dinding vertikal. Dan pada beberapa titik diberikan angkur yang masuk kedalam spesi antar roster. Plat besi inilah yang bertugas sebagai pengikat dari tumpukan roster. Namun demikian, ketika saya coba goyangkan, ternyata memang masih goyang. Dan semoga tidak ada hal-hal yang menyebabkan dinding roster tersebut bergoyang dan akhirnya roboh.

Setelah berbincang-bincang sejenak dan menikmati kopi serta hijaunya kawasan, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju objek berikutnya, yaitu rumah tinggal dari pemilik Bumi Kayom, yang didesain oleh arsitek Mas Adyputra juga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.