Arsitek Jogja – Memilih Kuliah Jurusan Arsitek? Yakin?


Hasil gambar untuk jurusan arsitektur mahasiswa

Suatu ketika saya pernah ditanya seseorang ketika sedang di pulau seberang tentang jurusan kuliah yang saya tempuh. Ketika saya jawab bahwa saya mengambil jenjang sarjana di Arsitektur, orang itu kembali bertanya lagi, apa itu arsitektur…

Bukan hanya orang awam, di pulau seberang waktu itu juga pernah ada pengalaman, teman saya yang seorang seniman lukis ditanya, apa beda beda antara desain komunikasi visual dengan arsitektur. Dan si penanya adalah pejabat tinggi negara sekaligus pemilik beberapa perusahaan termasuk salah satu universitas swasta disana.

Pengalaman lain lagi, ada teman saya yang seorang lulusan S1 Arsitektur, ditegur sewaktu dia ikut membantu memperbaiki pagar sebuah rumah. “Kamu ini katanya sarjana arsitektur, masak masang dinding bata, paku ama kawat aja tidak bisa”. Dan masih banyak lagi pengalaman lainnya yang berhubungan dengan pengertian tentang arsitektur.

Tidak dipungkiri, banyak sekali orang awam yang mempunyai perngertian yang kurang pas tentang arsitektur dan arsitek. Hal ini, diakui atau tidak, mempunyai pengaruh terhadap jumlah peminat jurusan arsitektur pada universitas-universitas, khususnya di luar pulau Jawa. Masyarakat masih ada yang berpendapat bahwa mahasiswa arsitektur itu belajar tentang menghitung struktur dan biaya bangunan. Ada juga yang berpendapat lulusan arsitektur itu pasti jadi pemborong atau kontraktor. Ada juga yang berpendapat mahasiswa arsitektur pasti pinter menggambar dengan sketsa tangan. Yang lebih parah, ada yang berpendapat lagi bahwa mahasiswa arsitektur itu harus pandai di semua bidang desain, termasuk mendesain dekorasi ulang tahun, mendesain tata boga meja makanan, mendesain baju, dll.

Apakah anda termasuk salah satu yang mempunyai pendapat tersebut?

Hasil gambar untuk arsitektur mahasiswa

Jurusan arsitektur di beberapa perguruan tinggi di Indonesia rata-rata adalah jenjang S1, meskipun ada juga jenjang D3. Pada era saya kuliah S1 dulu, mahasiswa arsitektur dikenal nyentrik dengan rambut gondrong, pakaian hitam, celana kusut bahkan bolong-bolong, gelang dan kalung tali menjuntai, dan mata sembab. Tidak lupa tabung gambar selalu menggantung pada pundak mereka.

Tampilan mahasiswa seperti ini tidak semata-mata demi dihargai, namun memang lebih kepada pola pikir bawaan pendidikan arsitektur. Memang ada juga mahasiswa yang tetap tampil rapi, celana kain, kemeja dimasukkan, rambut sisir samping dan klimis. Namun untuk dapat menjaga penampilan yang trendy tersebut membutuhkan tenaga ekstra, setelah carut marut lembur pengerjaan tugas yang tidak ada henti-hentinya.

Sumber : ARCH-student.com

Menurut penelitian, kuliah pada jurusan arsitektur merupakan salah satu kuliah terberat. Selain full dengan tugas, mahasiswa juga dibebani biaya peralatan yang cukup mahal. Kertas, penggaris, pensil, rapido, pensil warna, cat air, dan peralatan-peralatan lain yang tidak bisa dibilang murah. Belum ditambah teman lembur seperti camilan, gorengan, kopi, rokok, dan mungkin kartu remi untuk digunakan di sela-sela lembur tugas yang tiada habisnya.

Lalu, apakah selama kuliah arsitektur diajari memasang batu bata dan plester aci? Well, pada jaman saya kuliah dulu, tidak ada pelajaran tersebut, apalagi pelajaran praktek lapangan memasang bata. Yang diajarkan adalah kaidah-kaidah dan pengertian tentang prinsip-prinsip desain, struktur, utilitas bangunan, fisika bangunan, serta beberapa hal yang tentu berhubungan dengan arsitektur (ditambah beberapa mata kuliah umum). Dan rata-rata pembelajaran dilakukan didalam kelas. Yang kami pelajari adalah prinsipnya, bukan teknis pemasangan atau bahkan lebih lagi, prakteknya.

Memang ada mata kuliah khusus Struktur dan Konstruksi Bangunan. Tapi sekali lagi, kami diajarkan prinsip dan alasan setiap penggunaan system strukturnya, bukan bagaimana cara pemasangan, cara merangkai, dsb.

Hasil gambar untuk arsitektur mahasiswa

Mulai dari semester satu, mahasiswa arsitektur diharuskan bisa membuat garis lurus sepanjang kertas A3 tanpa bantuan penggaris. Dan garis tersebut dibuat banyak berjejer dengan jarak hanya 1 milimeter. Semakin hari tugas semakin berat. Menggambar dengan pensil, pena, rapido, cat air, pensil warna, spidol, dan lain-lain. Mata kuliah ini yang paling berat, mengharuskan mahasiswa begadang bermalam-malam tanpa tidur demi menyelesaikan gambar.

Selain ilmu sketsa dan gambar, mahasiswa juga diajarkan untuk mempelajari fisika bangunan. Bagaimana mengatasi cuaca, iklim, polusi, kebisingan, memanfaatkan tanaman, psikologi pengguna, dan lain-lain. Selain itu mahasiswa juga diajari metodologi penelitian, penyusunan program desain, presentasi desain, sejarah arsitektur, hingga kritik arsitektur. Masih ada banyak lagi ilmu dalam arsitektur yang tidak saya sebutkan. Pada intinya, mempelajari arsitektur itu sama dengan mempelajari semua ilmu. Mempelajari fisika untuk fisika bangunan, mempelajari kimia untuk sifat material dan bahan bangunan, psikologi untuk mengetahui tingkah dan adat pengguna, matematika untuk perhitungan-perhitungan struktur, mempelajari ekonomi untuk mendapatkan bangunan yang efisien dari segi biaya, dan ilmu-ilmu lain yang sangat bermanfaat dalam arsitektur.

Rata-rata jangka waktu kuliah mahasiswa arsitektur sampai selesai adalah diatas 4 tahun. Jarang ada yang kurang dari 4 tahun. Karena setelah mata kuliah yang penuh dengan tugas, untuk Tugas Akhir (TA)nya sendiri merupakan puncak dari kecapekan yang berkepanjangan. Pada waktu saya menyelesaikan studi S1, TA terdiri dari dua tahap, Skripsi/Penulisan, dan Studio/Gambar. Kita harus menyelesaikan skripsi terlebih dahulu untuk kemudian menyelesaikan produk gambar. Dari sini capeknya sudah dua kali lipat dari mahasiswa jurusan lain.

Ketika sudah luluspun, kegiatan lembur yang dialami semasa kuliah tidak surut, bahkan bisa bertambah. Hal ini karena beban pekerjaan menjadi lebih berat daripada tugas kuliah. Kalau pada waktu mahasiswa yang dipertaruhkan adalah nilai, pada waktu kerja jelas yang dipertaruhkan adalah hasil, karir dan nama baik.

Dengan perjuangan yang begitu berat sejak mulai kuliah, masih saja jasa arsitektur di Indonesia sering ditawar murah, bahkan lebih murah daripada jasa makelar yang tidak memerlukan pendidikan khusus. Bagi masyarakat awam, desain arsitektur dianggap mudah dan semua orang bisa membuatnya. Hal ini ditambah dengan menjamurnya software-software gambar yang dapat diunduh dan digunakan oleh orang yang tidak mempunyai background pendidikan arsitektur sekalipun. Padahal yang menjadi produk jualan seorang arsitek bukanlah gambar, namun ide dan konsep yang ada dalam kepalanya.

Jadi, apakah masih mau ambil jurusan arsitektur? 😀

Iklan

2 pemikiran pada “Arsitek Jogja – Memilih Kuliah Jurusan Arsitek? Yakin?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.