Arsitek Jogja – Harga Borongan Per Meter atau RAB?


Apakah anda pernah membangun rumah, atau merenovasi? Anda lakukan sendiri atau dengan menggunakan jasa kontraktor? Saya sendiri sering sekali ditanya “kalau ingin membangun rumah, biayanya berapa ya per meter?”. Menghadapi pertanyaan seperti ini, terus terang saya sedikit bingung untuk menjawabnya. Apalagi yang bertanya adalah orang awam yang merasa mengerti tentang pelaksanaan pembangunan tapi sebenarnya belum paham…hehe 😀

Anda yang pernah menggunakan atau sekedar ingin menggunakan jasa kontraktor, pasti pernah mendengar istilah biaya “PER METER”, atau bahkan anda sendiri mungkin pernah menanyakan kepada kontraktor biaya per meter tersebut. Apakah anda mendapatkan jawaban dari si kontraktor? Ataukah ada jawaban lain?

Saya ingin sedikit menjelaskan tentang biaya pelaksanaan pembangunan. Mungkin hal ini sudah dipahami oleh sebagian pembaca, namun saya yakin ada beberapa pembaca yang masih belum begitu jelas soal ini.

Dalam sebuah tahapan perencanaan, ada yang dinamakan RAB (Rincian Anggaran Biaya). RAB akan muncul ketika desain dan keterangan pendukung (gambar detail, spesifikasi bahan, dll) sudah ada. Penghitungan RAB berdasarkan volume dan harga satuan pekerjaan yang meliputi biaya tenaga (tukang) dan biaya pembelian material.

Dalam penyusunan RAB, ada yang disebut harga satuan pekerjaan. Harga satuan pekerjaan ini adalah besarnya biaya pembuatan komponen bangunan tiap satu satuan (bisa m’, m2, atau m3) tergantung jenis komponennya. Misalnya untuk pekerjaan pondasi, yang digunakan adalah m3, sehingga biaya yang muncul adalah biaya yang digunakan untuk membuat 1 m3 pondasi. Biaya ini sudah termasuk biaya tenaga dan biaya material. Begitu juga untuk komponen beton, menggunakan m3. Sedangkan untuk dinding, lantai, dan plafond biasanya menggunakan m2.

Dalam menentukan besaran harga satuan pekerjaan ini terdapat koefisien-koefisien untuk menentukan masing-masing unsur. Koefisien-koefisien yang standar dan sudah diakui adalah yang sudah Standar Nasional Indonesia. Harga satuan pekerjaan SNI bisa anda download di internet. Anda tinggal memasukkan harga per unsur, baik harga tenaga tukang, maupun harga material. Setelah harga satuan pekerjaan didapat, tinggal dikalikan dengan volume per komponen bangunan.

Menghitung RAB gampang-gampang susah. Gampangnya adalah, semua bisa diukur. Sehingga anda yang awam pun bisa juga menghitung. Koefisien sudah tersedia di internet. Untuk harga material anda bisa survey ke toko material. Ukuran pun bisa dilihat di gambar kerja rencana.

Susahnya adalah, pekerjaan yang dihitung sangat banyak. Banyak faktor yang mempengarui, terutama dari bentuk desainnya. Yang membuat kesulitan lainnya adalah jika anda buta harga material, sehingga harus survey begitu banyak harga material yang tidak mungkin didapat hanya dari salah satu penjual. Lalu gambar yang tidak lengkap juga dapat membuat perhitungan RAB tidak selesai.

Penghitungan RAB membutuhkan ketelitian yang tinggi, pengetahuan akan gambar, bahan material, dan pengalaman proses pekerjaan di lapangan. Biasanya setiap kontraktor yang besar sudah mempunyai staff khusus untuk mengurus segala hal yang berkaitan dengan RAB.

Sekarang, kembali lagi ke judul dari artikel ini. Dengan semua proses dalam mendapatkan besarnya biaya pelaksanaan pembangunan, apakah mungkin kita mendapatkan harga “per meter”?.

Jawabannya adalah TIDAK BISA. Mengapa? Karena setiap desain yang berbeda, akan menghasilkan besaran RAB yang berbeda pula. Meskipun bangunan berukuran sama, luasan sama, namun ketika desain berbeda, RAB nya pasti akan berbeda. Rumah luas 100m2 dengan satu kamar mandi akan berbeda dengan rumah luas 100m2 juga tapi berisi 4 kamar mandi. Luas lantai sama-sama 100m2 dengan granit akan lebih mahal daripada dengan keramik. Sama-sama dengan lapis keramik pun akan berbeda ketika harga keramiknya berbeda. Sehingga dengan kenyataan tersebut, harga patokan per meter sama sekali tidak bisa diterapkan.

Lalu kenapa orang-orang terbiasa menggunakan per meter?

Hal ini untuk menyederhanakan perhitungan. Mereka mengambil harga rata-rata dari masing-masing pekerjaan yang mempunyai luasan yang hampir sama. Meskipun resikonya sangat besar. Seperti saya jelaskan diatas, luas yang sama dengan desain dan material yang berbeda akan menyebabkan RAB yang berbeda. Ketika kontraktor menggunakan sistem per meter sedangkan ketika pelaksanaan biaya pembangunan ternyata lebih besar daripada harga per meter dikalikan luasan, apa yang akan terjadi? Biasanya kontraktor akan mulai mencari cara menutup kerugian, dengan mempercepat pekerjaan, hingga kalau kontraktor yang kurang baik, akan menurunkan spek tidak sesuai gambar rencana, dan tanpa sepengetahuan pemilik bangunan. Tentu hal ini tidak anda inginkan bukan? 😀

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s