Arsitek Jogja : Konsep Jogja’s Park Connector Network


Konsep Jogja’s Park Connector Network

Oleh : Bondan Prihastomo

Dalam kaitannya dengan julukan Kota Pelajar, Kota Yogyakarta mempunyai tanggungjawab yang sangat besar terhadap aspek pendidikan, dilihat dari segala unsure. Predikat kota pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pihak-pihak yang bergelut dibidang pendidikan saja, namun juga menjadi beban bagi seluruh masyarakat Yogyakarta.

Dilihat dari sudut pandang tata kota atau sering disebut dengan urban design, kondisi kota Yogyakarta pada saat ini masih kurang representative dalam mendukung bidang pendidikan yang diusung sebagai tema pembangunan kota. Kawasan yang kurang tertata, baik dari segi tata bangunan, sirkulasi, hingga sampai dengan aspek fisik kota yang melibatkan unsur citra kota (penataan landmark dan node) yang kurang terencana, menyebabkan penilaian kota Pelajar menjadi kurang sempurna.

Hal ini ditambah dengan belum terakomodasinya para pengguna jalan dalam haknya mendapat porsi yang sama saat hendak menuju ke suatu tempat. Masih banyak terlihat penyalahgunaan lahan seperti trotoar, badan jalan, hingga dalam skala meso dilanggarnya area hijau menjadi permukiman.

Dalam tulisan ini saya mencoba untuk memberikan suatu konsep penataan ruang sikulasi/linkage yang dihubungkan dengan tema Yogyakarta sebagai kota Pelajar.

  1. 1.       Cakupan
1.1. Lingkup Wilayah Desain

Area yang tercakup dalam lingkup desain meliputi Kabupaten Sleman yang mempunyai institusi pendidikan yang dominan bagi Kota Yogyakarta. Terdapat kampus seperti UGM, UPNUII, STIE YKPN, ATMA JAYA, dan UIN. Selain itu beberpa sekolah setingkat SMU maupun dibawahnya.

Untuk itu dalam perencanaan konsep desain adanya keterlibatan masing-masing institusi tersebut mempunyai nilai yang sangat penting, terutama institusi perguruan tinggi, yang menampung mahasiswa dari berbagai daerah dari seluruh Indonesia. Hal ini akan membuat nama Yogyakarta menjadi lebih mudah dikenal karena adanya pandangan dari para mahasiswa tersebut ketika kembali ke kampung halamannya.

Selain itu adanya beberapa objek wisata alami yang ada di cakupan wilayah perguruan tinggi, seperti Embung Tambakboyo juga memberikan kontribusi sangat besar dalam mendukung aktivitas mahasiswa, baik dalam kapasitasnya sebagai area rekreasi, social, maupun area pendidikan.

Gambar 1.1. Cakupan wilayah desain Jogja PCN

1.2. Alur Sirkulasi Melingkar (Loop)

 

 

Gambar 1.2. Desain Jalur Jogja PCN

Sesuai dengan namanya, yakni “Loop”, jalur penghubung antar titik penting dalam konsep ini adalah melingkar. Penekanan pada konsep ini adalah “memberikan jalur hijau sebagai jalur sirkulasi bebas kendaraan bermotor dan sebagai jalur hijau dalam kota Yogyakarta”. Sehingga, sesuai dengan tema pendidikan, titik-titik penting dalam desain loop ini adalah institusi pendidikan berupa universitas.

Dapat dilihat bahwa memang jarak antar universitas berbeda-beda. Namun justru itulah yang menjadi daya tarik tersendiri, dengan adanya konsep-konsep desain tambahan (skala mikro) pada tiap penggal.

  1. 2.       Elemen-elemen penting dalam Konsep “Loop”
2.1. Penataan Vegetasi

Dalam penataan jalur hijau yang paling penting di perhatikan adalah penataan vegetasi. Dalam hal ini vegetasi harus mempunyai berbagai fungsi selain hanya untuk estetika semata.

Sebagai elemen pembentuk jalur hijau dalam kota, vegetasi dihadapkan pada beberapa tantangan, yakni sebagai peneduh, penyerap polusi, pembentuk suasana, penahan erosi, penangkap air, pengarah alur sirkulasi, dan juga sebagai estetika.

Gambar 2.1. Pohon Mahoni sebagai penyerap Polusi yang efektif

2.2. Titik-titik batas dan Pemberhentian

Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa titik simpul dari jalur hijau ini adalah kawasan kampus universitas, seperti UGM, UPN, UII, STIE YKPN, ATMA JAYA, UIN, dan UNY. Pada masing-masing titik tersebut merupakan pembatas antar penggal, dan mungkin juga sebagai pembatas distrik dari penggal penghubung.

Selain itu, titik-titik simpul ini juga sebagai gerbang atau awal dan akhir dari sebuah perjalanan dalam jalur hijau. Juga sebagai tempat yang mempunyai daya tarik bagi pengguna loop, karena aktivitas mahasiswa yang beragam.

 

Gambar 2.2. Kegiatan mahasiswa dibawah rindangnya pohon

2.3. Jalur yang ideal

Dalam membuat jalur hijau yang aman dan nyaman, akan membuat fasilitas itu hidup dan selalu dpergunakan. Namun perlu diperhatikan agar fasilitas jalur hijau tersebut tidak dipergunakan untuk hal-hal yang tidak semestinya. Dalam perancangan harus dicermati secara khusus mengenai fungsi yang jelas dari rancangannya. Tentu hal ini menyangkut banyak factor, baik fisik maupun non fisik. Secara fisik, perlu diperhitungkan mengenai kapasitas, ketinggian, keamanan, serta desain yang menarik. Sedangkan non fisik, perlu diperhatikan bagaimana desain dapat meminimalisir penyalahgunaan fungsi dari fasilitas tersebut.

Jalur yang dipergunakan secagai acuan Jogja PCN ini adalah jalur jalan kota yang menghubngkan antar universitas. Selain itu digunakan juga jalur-jalur alternative yaitu sepanjang daerah aliran air/sungai. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi tidak tersedianya lahan pada daerah-daerah yang padat.

 

Gambar 2.3. Penggunaan jalur sirkulasi hijau secara optimal

 

2.4. Fasilitas Penunjang

2.4.1.        Jalur non motorized

Konsep jalur hijau yang ada dalam loop ini adalah konsep non motorized, sehingga sanat bebas bagi para penendara sepeda ataupun orang yang berjalan kaki. Sangat banyak komunitas sepeda yang ada di Yogyakarta yang dapat dengan leluasa menikmati adanya jalur hijau ini.

Gambar 2.4.1. Fasilitas Sepeda di Guang Zhou China

 

2.4.2.        Kontinuitas Jalan

Jalur sebagai penghubung antar universitas. Sehingga merupakan jalur melingkar yang terus menerus berputar. Hal ini mempermudah bagi akademisi ketika harus menuju universitas lain yang berjarak dekat tanpa harus mengeluarkan hasil bahan bakar yang berpotensi menimbulkan polusi udara.

2.4.3.        Rest Area dan Komersial Area

Perlunya rest area adalah bagi mereka para pengguna jalan yang memang hanya menggunakan jalur hijau ini sebagai area rekreasi. Perlunya rest area berhubngan dengan kenyamanan pengguna. Pembuatan rest area harus mempertimbangkan kondisi para pengguna, sehingga dapat diketahui berapa jarak tiap rest area, berapa kapasitas yang harus dipenuhi, apakah perlu adanya fasilitas penunjang lain, dan juga bagaimana bentuk yang sesuai dengan knteks.

Gambar 2.4.3. Penempatan Rest Area

2.4.4.        Signage yang jelas

Petunjuk yang jelas akan mempermudah para pengguna untuk menuju tempat-tempat tertentu maupun mengetahui apa saja yang boleh dan tidak diperbolehkan dalam area tersebut. Informasi sangat penting untuk ditata mengingat kebiasaan orang Yogyakarta ketika memasang informasi cenderung tidak tertata, di sembarang tempat yang bias mengganggu estetika, juga fungsi yang sebenarnya.

  

Gambar 2.4.4.a. Penataan signage yang menarik            


Gambar 2.4.4.b. Penataan signage yang jelas

 

2.4.5.        Mudah dijangkau

Mudah dijangkau dalam artian ini adalah arti secara makro kota Yogyakarta. Letak strategis dari loop ini akan memberikan dampak yang besar bagi daerah-daerah sekitarnya. Diharapkan loop ini bias berkembang dan bercabang ke daerah-daerah lain sehingga akan tercipta loop yang lebih besar lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s